Senin 31 May 2021 16:38 WIB

Penyusunan Kamus Sejarah Indonesia, MUI Minta Dilibatkan

Permintaan MUI ini merupakan respons polemik Kamus Sejarah Indonesia.

Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Utang Ranuwijaya menjadi pembicara saat Fokus Grup Diskusi di MUI, Jakarta, Kamis (26/10).
Foto: Republika/ Wihdan
Ketua Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Utang Ranuwijaya menjadi pembicara saat Fokus Grup Diskusi di MUI, Jakarta, Kamis (26/10).

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta dilibatkan dalam penyusunan Kamus Sejarah Indonesia (KSI) khususnya menyangkut konten keislaman.

"Meminta Mendikbud RI dan semua pengambil kebijakan publik agar berkonsultasi dengan MUI. Hal ini untuk menghindari terjadinya bias dan kegaduhan publik," ujar Ketua Bidang Pengkajian dan Penelitian MUI Utang Ranuwijaya dalam konferensi pers yang dipantau secara virtual, Senin (31/5).

Baca Juga

Pernyataan MUI ini sebagai respon dari polemik penyusunan KSI yang menghilangkan jejak pendiri Nahdlatul Ulama Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari serta sejumlah tokoh agama lainnya.Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Ristek Hilmar Farid sempat mengonfirmasi bahwa KSI jilid I tidak pernah diterbitkan secara resmi.

Menurutnya buku itu disusun sebelum kepemimpinan Nadiem Makarim dan belum ada penyempurnaan serta rencana penerbitan.Menurut Utang, berdasarkan kajian MUI, ada dugaan semacam benturan kepentingan dan ideologi kiri serta kanan dari pihak-pihak tertentu. Sehingga muncul nama-nama yang merepresentasikan mereka dan menganaktirikan tokoh-tokoh Islam moderat.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement