Senin 23 Aug 2021 08:09 WIB

Al Ghamdi Miliarder Arab Saudi 'Bapak' Ribuan Yatim Afrika

Al Ghamdi memberikan jaminan bagi ribuan yatim Afrika dengan kekayaannya

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Nashih Nashrullah
Al Ghamdi memberikan jaminan bagi ribuan yatim Afrika dengan kekayaannya
Foto: Arabnews
Al Ghamdi memberikan jaminan bagi ribuan yatim Afrika dengan kekayaannya

IHRAM.CO.ID, JEDDAH— Ali Al Ghamdi  telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk kesejahteraan anak yatim piatu kurang mampu.

Pria asal Arab Saudi yang dijuluki sebagai Bapak Anak Yatim ini bukan hanya fokus menawarkan jaminan masa depan yang cerah bagi anak yatim piatu di Arab Saudi, tapi Afrika secara umum. 

Baca Juga

Pria berusia 56 tahun ini memiliki kantor filantropi miliknya sendiri di Uganda, dan telah merawat lebih dari 10.600 anak dan 7.400 keluarga pra-sejahtera, 20 panti asuhan, lima sekolah, rumah sakit dan klinik di beberapa negara di Afrika.  

“Meskipun situasi Covid-19 di Afrika, kami tidak berhenti bekerja. Karena pandemi, ada kelaparan dan kematian karena kelaparan, masalah yang sudah diderita kawasan itu. Tetapi dengan penyebaran virus, kehidupan semakin terganggu,” ujar Al Ghamdi yang dikutip di Arab News, Senin (23/8). 

 

Al Ghamdi  lahir di Al-Bahah dan dibesarkan di Jeddah, bukan berasal dari keluarga kaya raya. Tokoh yang menginspirasinya untuk menjadi seorang filantropis adalah mendiang Abdul Rahman Al-Sumait, praktisi medis dan kemanusiaan asal Kuwait, hingga akhirnya memutuskan untuk mendedikasikan dirinya sebagai filatropis pada 2001 silam, fokus menyejahterakan anak-anak yatim dan piatu dari beragam ras, warna kulit dan latar belakang agama.  

Dia mengatakan terus melanjutkan upaya untuk membantu dan mendukung anak-anak dan keluarga pra-sejahtera melalui penemuhan makanan dan obat-obatan. “Kami telah mampu menyediakan makanan dalam jumlah besar dan persentase yang baik dari obat malaria kepada mereka yang membutuhkan.” 

Salah satu alasannya untuk fokus menyejahterakan anak-anak yatim piatu adalah karena tindakan diskriminatif yang banyak dialami anak-anak, terlebih mereka yang tinggal di panti asuhan. 

“Saya mulai mengumpulkan informasi tentang budaya dan kepedulian terhadap anak yatim. Setelah mendapatkan apa yang saya butuhkan, saya pergi ke Afrika untuk menerapkan apa pun yang saya pelajari. Mengapa Afrika? Karena tingginya angka kemiskinan, epidemi dan bencana.” “Saya tidak ingin imbalan apa pun. Yang saya inginkan hanyalah membuat anak-anak yatim itu bahagia,” sambungnya. 

Al Ghamdi  mengatakan dia tidak bisa diam saja saat melihat penderitaan orang lain dan merasa berkewajiban untuk membantu dengan cara apa pun yang dia bisa, mewujudkan kepeduliannya tidak hanya secara finansial tetapi juga secara fisik dengan mengatur perbekalan, membangun sekolah dan pusat kesehatan, memasak, membersihkan dan mengajarkan nilai-nilai moral.  

Al Ghamdi  menambahkan bahwa istrinya selalu berada di sisinya untuk mendukungnya ketika semangatnya sedang jatuh. Pasangan itu baru dikaruniai anak setelah 13 tahun menikah, kini mereka telah menjadi orang tua dari empat anak laki-laki dan tiga perempuan.  

Setelah bertahun-tahun berjuang memerdekakan hidup anak-anak yatim piatu, pada tahun 2018, ia menerima Penghargaan Cinta Kasih Cemerlang Dunia, senilai 30 ribu dolar AS (Rp115 juta).

Dua tahun kemudian, ia menerima lebih dari 272 ribu dolar AS (Rp1 miliar) dari Sheikh Mohammed bin Rashid Al-Maktoum, Wakil Presiden dan Perdana Menteri UEA, dan penguasa Dubai, dari penghargaan Arab Hope Makers sebagai tokoh yang memfasilitasi anak yatim seluruh Afrika tanpa bantuan ekternal. 

Al Ghamdi  menghabiskan uang yang dia terima dari penghargaan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Banyak anak yatim piatu yang dia bantu telah menikmati karir yang sukses, baik sebagai pengacara, dokter, maupun profesi lainnya. 

Hassan dan Sharifah, salah satu anak yang tumbuh dalam asuhan Al Ghamdi  baru saja merampungkan pendidikan mereka sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Makerere di Uganda.  

“Kami membantu mempersiapkan mereka untuk sekolah, dan kami memberi mereka dukungan yang mereka butuhkan agar mereka merasa setara dengan teman sebayanya di sekolah,” ujarnya. 

Al Ghamdi  mengatakan kepada Arab News bahwa dia tidak pernah menyesali hidup pilihannya, meskipun ada saat-saat sulit. “Ketika saya berjalan di jalan, pasar atau mal, banyak orang berkumpul dan meminta bantuan atau berfoto dengan saya, dan saya tidak akan mengatakan saya suka itu. Tetapi Anda menemukan diri Anda dipaksa untuk menjawab semua orang dan hari hilang saat Anda berada di antara mereka,” katanya. 

 

Sumber: arabnews 

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement