KH Ahmad Abdul Hamid Serba Bisa (I)

Selasa , 24 Aug 2021, 20:02 WIB Reporter :Muhyiddin/ Redaktur : Agung Sasongko
Nahdlatul Ulama
Nahdlatul Ulama

Kiprah di NU

 

Terkait

Beberapa bulan sesudah pembentukannya pada 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926, Jam'iyah NU belum dapat bergerak secara optimal. Sebab, persiapan perlu dimatangkan di berbagai bidang. Fokus utamanya masih seputar konsolidasi ulama-ulama Islam tradisionalis, baik di dalam maupun luar Jawa.

Barulah sekitar empat tahun kemudian, organisasi tersebut dapat berjalan dengan lebih sistematis. Bermula dari Muktamar ke-5 NU di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 1930. Momen ini dinilai banyak kalangan sebagai tonggak penting sejarah perjalanan NU ke depannya.

Sebab, pembagian divisi organisasi mu lai dipertegas lagi sehingga terben tuklah berbagai lembaga dan lajnah yang menangani aneka macam tugas. Ada yang berkutat pada bidang umum, dakwah, pendidikan, urusan luar negeri, dan sebagainya. 

Ketika KH Ahmad Abdul Hamid terjun ke NU, konsolidasi demikian sudah berlangsung dengan baik. Namun, hal itu tidaklah berarti kiprahnya di jam'iyahitu diwujudkan secara instan. Ia tetap mengikuti tahap demi tahap, dimulai dari tingkat cabang sampai pengurus besar.

Di Kabupaten Kendal, ia memimpin pengurus cabang Nahdlatul Ulama (PBNU) setempat. Selanjutnya di level Jawa Tengah, dirinya sempat men jadi wakil rais syuriah dan kemudian rais syuriah, dengan katib yakni KH Sahal Mahfudz. Hingga akhirnya, Kiai Ahmad hijrah ke DKI Jakarta dan menjadi mustasyar PBNU. Ulama yang juga mengasuh Pondok Pesantren al-Hidayah Kendal itu juga pernah menjadi unsur pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah.