Ketika Tragedi 9/11 Membingkai Terorisme Menjadi Isu Islam

Rabu , 15 Sep 2021, 06:41 WIB Reporter :Umar Mukhtar/ Redaktur : Agung Sasongko
Stop Islamofobia
Stop Islamofobia

Sejak itu, jumlah artikel surat kabar yang memuat kata-kata terorisme atau teroris, baik di Amerika Serikat maupun Inggris, telah meningkat secara eksponensial. Ini terlepas dari kenyataan bahwa serangan teroris di Eropa dan Amerika Utara jauh lebih umum selama tahun 1970-an dan 1980-an. Ini biasanya dilakukan oleh organisasi nasionalis sayap kiri atau kanan.

 

Terkait

Selain drama dan berita serangan 9/11, alasan utama mengapa terorisme mendominasi berita utama adalah karena politisi dan tokoh elit lainnya mulai berbicara tentang terorisme dan banyak.

Ilmu komunikasi politik telah lama mencatat pengaruh sumber-sumber yang kuat atas agenda berita. Namun penelitian mengungkapkan bagaimana, pada hari, minggu dan bulan setelah 9/11, politisi dan sumber keamanan mendominasi berita tentang ancaman teror selama periode ini dan membantu mendorong suasana semangat patriotik. Juga ada klaim bahwa politisi mengadopsi bahasa yang lebih emosional ketika berbicara tentang ancaman teror, yang semakin meningkatkan nilai berita dari informasi tersebut.

Ketika perang melawan teror meluas, teroris sendiri muncul sebagai sumber berita utama. Munculnya internet dan munculnya media sosial, membuat kelompok teroris memiliki akses yang jauh lebih besar ke media berita daripada sebelumnya. Seiring waktu, gambar propaganda rumahan yang kasar berubah menjadi latihan ala Hollywood yang spektakuler dalam PR teror yang dapat langsung dibagikan kepada khalayak pendukung global. 

"Namun terlepas dari gambaran seperti itu dalam liputan berita Barat, laporan media sering gagal untuk memasukkan penjelasan rinci mengapa teroris berusaha mengadopsi taktik kekerasan. Temuan menunjukkan bahwa media Barat biasanya menghilangkan dimensi politik dari video propaganda teroris, tetapi mempertahankan aspek yang lebih mengancam, seringkali eksotis," papar Ahmad.