Kamis 30 Sep 2021 17:00 WIB

Muslim Uighur Buka Masjid Bekas Gereja Berusia 150 Tahun

Muslim Uighur di Kanada telah mendirikan masjid di bekas bangunan berusia 150 tahun.

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko
Masjid di Kanada (Ilustrasi)
Foto:

Para peneliti telah mendokumentasikan penahanan oleh otoritas China sebanyak 1,8 juta orang Uighur dan minoritas Muslim lainnya di jaringan kamp penahanan yang diklaim Beijing sebagai pusat pelatihan kejuruan.

China menolak tuduhan yang tersebar luas dan terdokumentasi bahwa mereka telah menganiaya muslim yang tinggal di Xinjiang dan membuat wilayah itu tertutup bagi peneliti dan jurnalis independen.

Amerika Serikat dan legislatif di beberapa negara Eropa telah menganggap perlakuan terhadap Uyghur dan lainnya di XUAR sebagai genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pada bulan Februari, parlemen Kanada meloloskan mosi tidak mengikat dengan suara bulat yang menyatakan perlakuan China terhadap Uighur di XUAR sebagai genosida, menjadi negara kedua setelah AS yang membuat keputusan itu.

Anggota parlemen juga memasukkan amandemen mosi tersebut, menyerukan Komite Olimpiade Internasional untuk memindahkan Olimpiade Musim Dingin 2022 dari Beijing jika pemerintah China melanjutkan penganiayaan terhadap kelompok minoritas.

Pada saat itu, China mengecam keras dan menentang langkah-langkah dari Ottawa, dengan mengatakan Beijing akan memulangkan perwakilannya di Kanada.

Direktur eksekutif Proyek Advokasi Hak Uyghur di Kanada Mehmet Tohti, mengatakan saat ini sekitar 2.000 orang Uighur atau 600 hingga 700 keluarga tinggal di Kanada, negara berpenduduk 38 juta orang.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement