India dan Titik Nadir Kebebasan Beragama

Sabtu , 30 Oct 2021, 05:21 WIB Reporter :Umar Mukhtar/ Redaktur : Agung Sasongko
Muslim berpartisipasi dalam prosesi untuk menandai Idul Fitri, peringatan kelahiran Nabi Muhammad, di Hyderabad, India, Selasa, 19 Oktober 2021.
Muslim berpartisipasi dalam prosesi untuk menandai Idul Fitri, peringatan kelahiran Nabi Muhammad, di Hyderabad, India, Selasa, 19 Oktober 2021.

IHRAM.CO.ID, BOSTON -- Ketua Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional (USCIRF), Nadine Maenza menyampaikan pandangannya ihwal kebebasan beragama di India. Dia terbilang vokal dalam menentang situasi kebebasan beragama yang terus memburuk di India.

 

Terkait

Menurut Maenza, kondisi kebebasan beragama di India sangat memprihatinkan. Pemerintah India, yang dipimpin oleh Partai Bharatiya Janata (BJP), mempromosikan kebijakan nasionalis Hindu yang mengakibatkan pelanggaran kebebasan beragama yang sistematis, berkelanjutan, dan berat yang berdampak negatif terhadap komunitas agama non-Hindu, termasuk Muslim, Kristen, Sikh, Dalit dan Adivasis (pribumi).

Baca Juga

"Aturan Undang-Undang Amandemen Kewarganegaraan yang kontroversial (CAA), yang dikombinasikan dengan Daftar Warga Nasional (NRC), berisiko mencabut hak Muslim di seluruh negeri (India)," tutur dia dalam wawancaranya kepada Aljazeera, Jumat (29/10).

Karena, kebijakan tersebut justru menyediakan jalur kewarganegaraan bagi non-Muslim dari negara tetangga Afghanistan, Bangladesh, dan Pakistan tetapi tidak memiliki solusi bagi Muslim yang terjebak dalam kebijakan NRC itu.

"Mereka yang tidak dapat membuktikan kewarganegaraannya melalui dokumentasi dapat dikenakan status tanpa kewarganegaraan, deportasi, dan bahkan penahanan," kata Maenza.