Sejarah Baru Dibangun di Piramida Giza

Rabu , 03 Nov 2021, 11:19 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Esthi Maharani
Pameran kontemporer di Piramida Giza
Pameran kontemporer di Piramida Giza

IHRAM.CO.ID, KAIRO -- Orang Mesir kuno melihat kematian sebagai interupsi sementara daripada penghentian kehidupan. Kematian merupakan bagian dari perjalanan, menuju keabadian individu dan pengalaman akhirat.

 

Terkait

Piramida Giza tidak hanya menakjubkan karena perawakannya yang monumental, yang hingga hari ini merupakan prestasi kecerdikan manusia, tetapi juga menakjubkan karena signifikansi spiritual dan ketahanannya terhadap waktu.

Baca Juga

Piramida Giza seolah diberi kehidupan baru saat entitas seni multidisiplin Art D'Egypte membuka pameran "Forever is Now", pada 21 Oktober dan berlangsung hingga 7 November. Judul pameran ini dinilai sangat tepat mengingat sejarah keberadaan piramida. Kini, mereka seolah memberikan peran baru, utamanya dalam pameran seni rupa kontemporer pertama yang digelar di tengah kemegahan piramida dalam 4.500 tahun ke belakang.

Dilansir di Arab News, Rabu (3/11), pameran tersebut dikuratori oleh penasihat seni independen, Simon Watson. Di dalamnya, ditampilkan karya-karya dari 10 seniman kontemporer, termasuk Sultan bin Fahad, Alexander Ponomarev, Gisela Colon, Joao Trevisan, Lorenzo Quinn, JR, Moataz Nasr, Sherin Guirguis, Shuster + Moseley dan Stephen Cox.

Kegiatan tersebut diadakan di bawah naungan Kementerian Purbakala dan Pariwisata Mesir, Kementerian Luar Negeri dan perlindungan UNESCO. Pameran ini merupakan yang keempat kalinya digelar oleh Art D'Egypte, sejak didirikan pada 2016.

Pameran tersebut mencakup pertunjukan seni Mesir kontemporer dan internasional di Museum Mesir di Tahrir Square, Museum Istana Manial dan di Jalan Al-Muizz di Kairo yang bersejarah.

Karya "Eternity Now" dari seniman Amerika Colon menunjukkan bagaimana seni masa kini dapat berdialog dengan situs warisan UNESCO. Ia menampilkan fitur kubah elips emas sepanjang 30 kaki yang lolos untuk dikategorikan sebagai sesuatu dari luar angkasa.

Aspek geometris formal kubah mewujudkan bentuk mistis dari bola bersinar dewa matahari Mesir Ra. Ia menyebut kroma emas yang terhormat ini ada di mana-mana dalam simbolisme dan ritualisme Mesir.

Pengunjung dapat melihat sekilas bayangan mereka sendiri dan lingkungan sekitarnya, termasuk Giza dan piramidanya, dengan melihat ke arah luarnya yang mengkilap. Karya seni seperti ini seolah memungkinkan penonton, karya seni, dan piramida kuno menjadi satu untuk sesaat.

“Pameran itu bersejarah, dalam arti menempatkan karya seni kontemporer dengan latar belakang sejarah kuno,” kata Colon.