Masjid Ramah Lingkungan, Cara Muslim Lindungi Bumi

Kamis , 04 Nov 2021, 12:53 WIB Redaktur : Esthi Maharani
Sejumlah pekerja memasang panel listrik tenaga surya di atap Masjid Istiqlal di Jakarta, Selasa (28/1/2020).
Sejumlah pekerja memasang panel listrik tenaga surya di atap Masjid Istiqlal di Jakarta, Selasa (28/1/2020).

IHRAM.CO.ID, Oleh Kiki Sakinah

 

Terkait

Ide masjid ramah lingkungan bukanlah hal baru. Meskipun perubahan iklim bukan menjadi perhatian utama dalam sejarah awal Islam, namun masjid-masjid di era awal Islam semuanya dapat dianggap sebagai masjid ramah lingkungan. Sebab, bangunan masjid bersumber dari bahan-bahan lokal dengan menggunakan metode berkelanjutan.

Baca Juga

Dalam banyak kasus, masjid dibangun untuk melengkapi lingkungan. Seperti halnya Masjid Agung di Timbuktu, Mali. Dinding lumpur dan jendela kecil juga membantu menjaga bangunan tetap sejuk di tengah panasnya Sahara.

Desain ramah lingkungan awal lainnya adalah pengenalan kubah masjid tradisional. Tujuannya tidak hanya untuk estetika, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam hal pengaturan suhu. Ketika sebuah kubah dipanaskan oleh matahari, bentuknya yang cekung menarik udara dari dalam masjid dan melepaskannya, secara alami mendinginkan ruang di dalamnya.

Bagi banyak Muslim, tugas untuk memerangi perubahan iklim tidak hanya terletak pada negara tetapi juga pada diri mereka sendiri sebagai individu. Perlindungan lingkungan adalah kewajiban etis yang ditetapkan sejak masa-masa awal Islam.

Salah satu hadits atau riwayat Nabi Muhammad Saw berbunyi, "Bumi itu hijau dan indah dan Allah telah menunjuk Anda khalifah di atasnya."

Atas dasar hal itulah, banyak Muslim merancang masjid dengan turut memperhatikan lingkungan. Harapannya, rumah ibadah tidak berkontribusi dalam merusak planet bumi ini.

Middle East Eye, dilansir Rabu (3/11), menyoroti teknik lain yang digunakan Muslim di seluruh dunia untuk memerangi perubahan iklim. Salah satu negara mayoritas Muslim yang telah mulai mengembangkan cara agar bisa beribadah dengan tetap memelihara lingkungan adalah Maroko.

Maroko, yang menjadi tuan rumah COP22 pada 2016, memiliki sekitar 50 ribu masjid di seluruh negeri. Menjelang event itu pada 2014, negara itu berjanji untuk memasukkan desain ramah lingkungan, seperti panel surya dan pencahayaan LED ke dalam masjid yang ada dimulai dengan 600 di bawah proyek Masjid Hijau.

Inisiatif ini merupakan kerja sama antara Kementerian Agama Maroko dan pemerintah Jerman. Sejauh ini lebih dari 890 masjid telah dimodifikasi menjadi lebih hemat energi.

Ada satu masjid ramah lingkungan yang dibangun sangat efisien, menjadi masjid energi-plus, yang berarti telah menciptakan lebih banyak energi daripada yang dikonsumsi. Masjid tersebut adalah Jami'a al-Kutubiyya abad ke-12 yang bersejarah di Marrakesh, yang memiliki panel surya yang ditambahkan ke strukturnya pada 2017.

Satu jam ke selatan Marrakesh di desa kecil Tadmamet terdapat masjid ramah lingkungan pertama di Maroko dengan panel tenaga surya fotovoltaik di atapnya. Dibangun pada  2017, masjid ini sekarang menghasilkan lebih banyak energi daripada yang dikonsumsi dan juga menyediakan listrik ke bagian lain desa yang berpenduduk 400 orang.

Maroko mengimpor sekitar 90 persen energinya dari berbagai negara termasuk Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi. Akan tetapi, negara ini kini tengah berupaya untuk memproduksi 52 persen energinya menggunakan sumber terbarukan pada 2030. Mengingat lokasi negara Afrika Utara ini di dalam Sahara, dengan sinar matahari yang berlimpah, energi matahari menjadi sumber listrik yang semakin penting.