Nilai-Nilai Prancis dan Islamofobia

Sabtu , 06 Nov 2021, 22:20 WIB Reporter :Mabruroh, Alkhaledi Kurnialam, Meiliza Laveda/ Redaktur : Agung Sasongko
Muslim Prancis
Muslim Prancis

IHRAM.CO.ID, PARIS -- Prancis mengecam kampanye keragaman dengan menyertakan sosok berjilbab. Kampanye tersebut dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Prancis.

 

Terkait

Kampanye tersebut dibiayai oleh Uni Eropa, diluncurkan pekan lalu oleh Dewan Eropa, sebuah badan hak asasi pan-Eropa.

Baca Juga

Dilansir dari The National News, Jumat (5/11), pemerintah Presiden Emmanuel Macron mengajukan keberatan atas kampanye tersebut. Melalui siaran radio, politisi sayap kiri dengan cepat mengangkat poin atas dasar kesetaraan sedangkan kandidat sayap kanan menyebutnya sebagai propaganda Islam.

Menteri Pemuda, Sarah El Hairy mengatakan Prancis tidak setuju karena kampanye tersebut dianggap mendorong pemakaian jilbab, sesuatu yang pemerintah Paris berusaha atur dalam kehidupan umum. Dari sayap kanan, Marine Le Pen dan Eric Zemmour juga mengkritik kampanye tersebut.

photo

Infografis Konflik Israel Palestina Tingkatkan Islamofobia - (Republika)

Kepala wilayah Paris, Valerie Pecresse, calon kandidat presiden lainnya melawan Macron dari sayap kanan tradisional, mengatakan dia heran dengan peluncuran itu dan mengatakan bahwa jilbab bukanlah simbol kebebasan baginya.

Mantan negosiator Brexit Uni Eropa Michel Barnier, yang juga mencari nominasi sayap kanan untuk mencalonkan diri sebagai presiden, mengatakan konsep itu adalah ide yang buruk.

Prancis adalah salah satu dari 47 negara anggota dewan, yang bertindak sebagai penjaga Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia. "Saya sangat terkejut, ini kebalikan dari nilai-nilai yang dibela Prancis, itu mempromosikan pemakaian jilbab," kata El Hairy. 

"Ini harus dikutuk dan karena itu Prancis memperjelas ketidaksetujuannya yang sangat kuat dan karenanya kampanye tersebut sekarang telah ditarik pada hari ini," katanya.

Dalam kampanye itu, terdapat sebuah gambar menunjukkan potret dua wanita muda yang tengah tersenyum dibelah menjadi dua namun menyatu. Potret tersebut menunjukkan satu sisi dengan rambut terbuka dan yang lainnya mengenakan jilbab.

“Kecantikan ada dalam keberagaman sebagaimana kebebasan ada dalam hijab,” tulis salah satu slogannya. “Betapa membosankannya dunia jika semua orang terlihat sama? Rayakan keberagaman dan hormati hijab,” kata tulisan lainnya.