Rabu 10 Nov 2021 16:46 WIB

Tugas Berat Penyuluh Agama

Penyuluh agama memiliki peran vital dalam berbagai aspek di masyarakat.

Rep: Fuji Eka Permana, Umar Mukhtar, Zahrotul Oktaviani/ Red: Agung Sasongko
Mengajar Iqra Di Sebira, Jejak Penyuluh Agama Di Pulau Jaga Utara
Foto:

Tugas lain, penyuluh agama diharapkan dapat bertugas menyosialisasikan pengendalian gratifikasi. Hal ini diungkapkan saat diskusi kelompok terfokus bertema "Optimalisasi Peran Para Penyuluh Agama Untuk Sosialisasi Pengendalian Gratifikasi" yang digelar secara virtual bersama jajaran Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha pada Jumat (4/6).

Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag, Muhammad Fuad Nasar, mengatakan, program diseminasi anti gratifikasi dan anti korupsi dengan melibatkan penyuluh agama merupakan hal yang sangat strategis. Terlebih jika mereka dibekali dengan pemahaman wawasan pengetahuan tentang seluk beluk tindakan pencegahan korupsi dan gratifikasi.

photo
I Made Tisnu Wijaya, salah seorang penyuluh muda non-PNS yang mengabdikan diri mengajarkan agama dan etika kepada masyarakat Hindu di Kabupaten Klungkung, Bali. - (Republika/Mutia Ramadhani)

Terpisah,  Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama (Kemenag) Tri Handoko Seto menyebut Pasca terbitnya Permenpan-RB Nomor 9 Tahun 2021, lanjut Tri Handoko, penyuluh agama menjadi garda terdepan pembinaan umat. Penyuluh agama diharapkan mampu menjadi teladan di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pahlawan merupakan orang yang mengorbankan kenyamanan hidupnya agar orang lain bisa mendapatkan kenyamanan seperti dirinya.

“Sebelum penyuluh dapat memenangkan perang di media sosial, penyuluh agama terlebih dulu harus mampu menang dalam dirinya sendiri," lanjutnya.

Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin, mengakui ada banyak sekali tugas penyuluh agama dan tugas-tugasnya tidak sederhana. Tentu yang mengelola penyuluh agama juga tidak mudah.

Dia mengatakan, tidak ada alasan apapun, tetap penyuluh agama harus ditingkatkan kapasitasnya. Mereka harus bertransformasi dan mereka harus punya pemahaman literasi digital, media, sosial dan agama. Ini program prioritas Kemenag.  

"Saya kira memang perlu ada transformasi secara serius terhadap penyuluh-penyuluh kita, kita melihat sekarang dinamika sosial keagamaan begitu cepat terjadi dan perubahannya sangat tinggi sekali, tentu mengharuskan adanya respon berkualitas dan respon bermutu dari penyuluh-penyuluh agama kita agar bisa menyampaikan pesan-pesan agama secara efektif," ujarnya. 

 

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement