Prancis, Islamofobia dan Pameran Seni Islam Nasional

Kamis , 25 Nov 2021, 16:22 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Esthi Maharani
Lapangan di sekitar Museum Louvre, Paris, Prancis
Lapangan di sekitar Museum Louvre, Paris, Prancis

Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang akan dipilih kembali April mendatang, pertama kali mengusulkan gagasan pameran itu dalam pidato Oktober lalu. Dia menekankan pemerintah harus mendorong pandangan lain tentang budaya Islam daripada faksionalisme Islam radikal yang selama ini berlaku.

 

Terkait

“Tentu saja proyek kami bukan untuk memancing reaksi negatif. Kami tidak melakukan politik. Kami adalah museum. Kami berurusan dengan mahakarya sejarah seni dan kami menunjukkannya apa adanya,” ucap Lintz.

Lebih lanjut, ia menyebut belum memutuskan karya apa yang dilarang atau tidak. Objek-objek ini adalah semacam duta sejarah, realitas dan kebenaran.

Karya seni yang ada, lanjutnya, menunjukkan kapan pun dan di wilayah mana pun di dunia Islam, kita dapat menggambarkan Nabi. Dan ketika saat ini terdengar hal itu dilarang, itu hanya ide dari beberapa orang, dari beberapa negara, bukan realitas sejarah peradaban Islam.

Beberapa karya yang berasal dari Louvre termasuk benda-benda keagamaan, seperti lampu abad ke-11 dari masjid Yerusalem, dan lampu gantung yang menceritakan kehidupan Yesus dari era Saladin abad ke-12 oleh seorang seniman dari Mosul.

Pameran tersebut juga mencakup benda-benda mewah dengan batu mulia yang berasal dari India milik Raja Prancis Louis XIV, serta karpet Iran yang luar biasa dari abad ke-17.

Juga akan ada elemen kontemporer untuk pameran, dengan karya 19 seniman dari negara-negara di seluruh dunia Islam. Karya tersebut mencerminkan hubungan antara warisan mereka dan masyarakat saat ini.

Memasukkan seni rupa kontemporer dinilai penting bagi kurator, karena pameran ditujukan terutama untuk anak muda. “Penting untuk memberi tahu mereka peradaban ini bukan hanya pada zaman keemasan masa lalu, tetapi juga sejarah yang mencakup 13 abad tanpa gangguan, antara masa lalu dan hari ini,” kata Lintz.