Selasa 25 Jan 2022 18:18 WIB

Awal Tahun 2022, Perang Yaman Renggut Nyawa 17 Anak

Perang di Yaman dimulai pada 2014.

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Ani Nursalikah
Sejumlah Anak-anak Yaman menunggu giliran mengisi jeriken dengan selang dari sumur pompa bertenaga diesel di kota Abs, provinsi Hajjah, Yaman, Selasa (8/9). Banyak anak laki-laki Yaman meninggalkan rumah mereka dengan membawa keledai dan tabung air plastik untuk mengambil air dari sumur Abs, beberapa jam dari desa mereka. Bepergian jauh untuk mengambil air untuk keluarga setiap hari membuat anak laki-laki tersebut tidak bersekolah. Ribuan keluarga Yaman di daerah itu kebanyakan bergantung pada anak-anak mereka untuk mengambil air untuk minum, memasak dan mencuci. Menurut UNICEF, hampir 18 juta orang dari 29 juta penduduk Yaman, termasuk 9,2 juta anak-anak, tidak memiliki akses reguler ke air bersih. Awal Tahun 2022, Perang Yaman Renggut Nyawa 17 Anak
Foto: EPA-EFE / YAHYA ARHAB  
Sejumlah Anak-anak Yaman menunggu giliran mengisi jeriken dengan selang dari sumur pompa bertenaga diesel di kota Abs, provinsi Hajjah, Yaman, Selasa (8/9). Banyak anak laki-laki Yaman meninggalkan rumah mereka dengan membawa keledai dan tabung air plastik untuk mengambil air dari sumur Abs, beberapa jam dari desa mereka. Bepergian jauh untuk mengambil air untuk keluarga setiap hari membuat anak laki-laki tersebut tidak bersekolah. Ribuan keluarga Yaman di daerah itu kebanyakan bergantung pada anak-anak mereka untuk mengambil air untuk minum, memasak dan mencuci. Menurut UNICEF, hampir 18 juta orang dari 29 juta penduduk Yaman, termasuk 9,2 juta anak-anak, tidak memiliki akses reguler ke air bersih. Awal Tahun 2022, Perang Yaman Renggut Nyawa 17 Anak

IHRAM.CO.ID, SANA'A -- Perang Yaman telah merenggut 17 nyawa anak-anak sejauh ini pada awal tahun 2022. Dana Anak-anak PBB (UNICEF) menyebut banyaknya korban anak ini karena kekerasan terus merajalela di negara yang terus dilanda konflik tersebut. 

Kepala UNICEF Timur Tengah Ted Chaiban mengatakan angka ini hampir dua kali lipat untuk keseluruhan korban anak pada Desember. "Anak-anak di Yaman terus menjadi yang pertama dan paling banyak dibayar, hampir tujuh tahun berlalu dalam salah satu konflik bersenjata paling brutal dalam sejarah baru-baru ini," katanya dilansir dari The New Arab, Ahad (23/1/2022).

Baca Juga

“UNICEF menyerukan kepada pihak-pihak yang berkonflik di Yaman dan mereka yang memiliki pengaruh untuk menghormati hukum internasional dan melindungi warga sipil, termasuk anak-anak, setiap saat," tambahnya.

Chaiban mengatakan warga sipil dan fasilitas sipil, seperti sekolah dan rumah sakit tidak boleh diserang dan "harus selalu dihormati". “Sejak konflik meningkat di Yaman, PBB memverifikasi bahwa lebih dari 10 ribu anak telah terluka atau terbunuh. Jumlahnya kemungkinan jauh lebih tinggi,” tuturnya. 

 

"Terlalu banyak anak yang terkena dampak dalam perang yang tidak mereka buat. Sudah saatnya bagi mereka yang berjuang untuk menghentikan kekerasan dan mencapai solusi politik," tambahnya. 

Perang di Yaman dimulai pada 2014, tahun ketika pemberontak Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah lainnya. Houthi didukung oleh Iran, sementara pemerintah Yaman didukung oleh koalisi militer yang dipimpin Saudi.

Organisasi hak asasi manusia menuduh koalisi, pemberontak, dan lainnya yang terlibat dalam pertempuran itu melakukan pelanggaran serius. PBB menyebut perang Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement