Selasa 31 May 2022 04:48 WIB

Wabah Meningitis Mengamuk di antara Anak-Anak Suriah

Wabah Meningitis Mengamuk Di antara Anak-Anak Suriah

Rep: Mabruroh/ Red: Muhammad Hafil
Wabah Meningitis Mengamuk di antara Anak-Anak Suriah. Foto:   Seorang wanita menggantung cucian di kamp pengungsi yang terendam banjir di provinsi Idlib, Suriah, Selasa, 21 Desember 2021.
Foto: AP/Ghaith Alsayed
Wabah Meningitis Mengamuk di antara Anak-Anak Suriah. Foto: Seorang wanita menggantung cucian di kamp pengungsi yang terendam banjir di provinsi Idlib, Suriah, Selasa, 21 Desember 2021.

IHRAM.CO.ID,DAMASKUS -- Kota Raqqa di Suriah utara baru-baru ini mencatat ratusan kasus meningitis. Penyakit ini banyak menyerang anak-anak Suriah yang tidak mendapatkan akses terhadap vaksin.

Dilansir dari Alaraby, Senin (30/5/2022), setidaknya 386 infeksi dicatat pada 24 Mei 2022. Otoritas setempat memperingatkan penduduk bahwa penyakit itu telah menyebar secara signifikan.

Baca Juga

Meningkatnya kasus meningitis bertepatan dengan berlalunya beberapa badai pasir, yang menimbulkan kerusakan di kamp-kamp di sekitar Raqqa pada bulan Mei. Setelah badai, beberapa penghuni kamp dirawat di rumah sakit karena kesulitan bernapas.

Meningitis adalah infeksi serius dan berpotensi mematikan pada otak dan sumsum tulang belakang yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Anak-anak sangat rentan terhadap penyakit ini.

 

Meningitis, ketika tidak membunuh, penyakit ini dapat memiliki konsekuensi seumur hidup. Terkadang, bahkan sampai menyebabkan kerusakan permanen pada otak, kejang kronis, dan tuli.

Penyebaran virus meningitis difasilitasi oleh kondisi kehidupan yang padat, yang lazim di kamp-kamp pengungsian. Penyakit ini juga tumbuh subur di masyarakat miskin, karena banyak dari mereka yang sulit untuk mendapatkan akses ke kesehatan.

Diperkirakan 90 persen warga Suriah sekarang hidup di bawah garis kemiskinan, banyak keluarga tidak dapat mencari perawatan yang tepat pada waktunya, tidak mampu membeli transportasi dan obat-obatan.

Hubungan antara badai pasir dan penyebaran meningitis telah didokumentasikan dengan baik di wilayah Sahel di Afrika Barat, di mana badai pasir sering terjadi. Para ilmuwan berhipotesis bahwa menghirup pasir dan debu dapat membawa bakteri penyebab meningitis tinggi ke saluran pernapasan, di mana infeksi lebih mungkin berkembang.

Badai pasir di Timur Tengah menjadi lebih sering dan intens, tren yang terkait dengan penggembalaan berlebihan dan penggundulan hutan, penggunaan air sungai yang berlebihan, dan perubahan iklim.

Temuan dari Program Lingkungan PBB (UNEP) menunjukkan wabah meningitis dapat meningkat di tahun-tahun mendatang.

Sumber:

https://english.alaraby.co.uk/news/meningitis-infections-rise-syrias-raqqa

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement