Sebuah Kisah Romantis Nabi Muhammad dan Aisyah

Sabtu , 25 Jun 2022, 01:27 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Ani Nursalikah
Sebuah Kisah Romantis Nabi Muhammad dan Aisyah
Sebuah Kisah Romantis Nabi Muhammad dan Aisyah

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Islam datang untuk menyelamatkan dan menghormati hak-hak perempuan. Sayangnya, dalam benak sebagian orang, menjadi wanita Muslim sangat sulit, karena ia harus tunduk pada laki-laki dan masyarakat. Pemikiran itu tidak benar.

 

Terkait

Mari kita lihat bagaimana Islam menghargai perempuan dan melindunginya dari menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan. Mari kita lihat bagaimana Nabi Muhammad SAW adalah pahlawan hak-hak perempuan di Jazirah Arab, seperti dilansir dari About Islam, Kamis (16/6/2022).

Baca Juga

Menghormati wanita

Di era pra-Islam, ketika orang-orang Arab memiliki kebiasaan mengubur bayi perempuan hidup-hidup, lalu Nabi Muhammad berjanji siapa pun yang mendisiplinkan putrinya dengan baik akan masuk surga.

Pada saat itu wanita diperlakukan seperti budak atau harta benda dan persetujuan pribadi mereka tentang apa pun dianggap tidak penting. Mereka bahkan tidak pernah diperlakukan sebagai pihak dalam kontrak pernikahan. Nabi Muhammad lebih dari sekadar memberi perempuan hak untuk menerima atau menolak pernikahan, beliau juga melarang memaksa perempuan untuk menikah di luar kehendak mereka.

Feminis sejati

Identitas wanita Muslim disimpan setelah menikah. Nabi SAW telah memberikan hak untuk tidak mengubah nama keluarga menjadi nama suaminya setelah menikah. 

Di beberapa negara Muslim, perempuan dikenal dengan nama ayahnya, sebagai tanda identitas dirinya. Dia juga memiliki hak untuk meminta cerai, jika perlu dalam hukum Islam. Memang, Nabi Muhammad adalah orang pertama di semenanjung yang memberi perempuan hak untuk memilih, di masa di mana mereka diperlakukan hanya untuk satu tujuan dan kemudian dibuang.

photo

Suami-istri (ilustrasi) - (republika)