Deskripsi Menyentuh Seorang Yahudi yang Masuk Islam tentang Ibadah Haji

Selasa , 05 Jul 2022, 05:40 WIB Reporter :Alkhaledi Kurnialam/ Redaktur : Ani Nursalikah
Masjidil Haram tempo dulu. Deskripsi Menyentuh Seorang Yahudi yang Masuk Islam tentang Ibadah Haji
Masjidil Haram tempo dulu. Deskripsi Menyentuh Seorang Yahudi yang Masuk Islam tentang Ibadah Haji

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Muhammad Asad (1900-1992), lahir dalam keluarga Yahudi Austria yang kemudian memeluk Islam pada 1926 setelah tinggal dan bekerja di Timur Tengah selama beberapa tahun sebagai jurnalis. Ia dikenal sebagai 'hadiah Eropa untuk Islam' karena daftar panjang pencapaian untuk dirinya sendiri, termasuk terjemahan Alquran ke dalam bahasa Inggris.

 

Terkait

Asad adalah seorang penulis yang berbakat, dan dalam bukunya The Road to Mecca (1952), ia meninggalkan deskripsi yang jelas dan menyentuh tentang haji. Berikut beberapa kutipan yang diambil dari bukunya seperti dilansir dari About Islam, Kamis (30/6/2022).

Baca Juga

Ka'bah

“Ini adalah Ka’bah, tujuan kerinduan jutaan orang selama berabad-abad. Untuk mencapai tujuan ini, tak terhitung banyaknya peziarah yang telah melakukan pengorbanan berat selama berabad-abad. Banyak yang meninggal dalam perjalanan, banyak yang mencapainya hanya setelah mengalami kesulitan besar dan bagi mereka semua, bangunan kecil berbentuk persegi ini adalah puncak keinginan mereka, dan untuk mencapainya berarti pemenuhan (keinginan)," tulisnya. 

Di sana ia berdiri, hampir berbentuk kubus sempurna (seperti yang berkonotasi dengan nama Arabnya) seluruhnya ditutupi dengan brokat hitam, sebuah bangunan yang tenang di tengah-tengah segi empat luas masjid, jauh lebih tenang daripada karya arsitektur lainnya di mana pun di dunia. Hampir terlihat orang yang pertama kali membangun Ka'bah ingin membuat sebuah perumpamaan tentang kerendahan hati manusia di hadapan Tuhan.

Menurutnya, orang yang membangun Ka'bah tahu bahwa tidak ada keindahan ritme arsitektur dan tidak ada kesempurnaan garis, betapapun hebatnya, yang dapat melakukan keadilan terhadap gagasan tentang Tuhan dan karena itu ia membatasi dirinya pada bentuk tiga dimensi paling sederhana yang dapat dibayangkan, sebuah kubus batu. 

Bentuk Ka'bah yang sederhana disebut sebagai penolakan total semua keindahan garis dan bentuk. "Keindahan apa pun yang dapat diciptakan manusia dengan tangannya, hanyalah kesombongan untuk menganggapnya layak bagi Tuhan; oleh karena itu, hal paling sederhana yang dapat dipahami manusia adalah yang terbesar yang dapat ia lakukan untuk mengungkapkan kemuliaan Tuhan,"