Deskripsi Menyentuh Seorang Yahudi yang Masuk Islam tentang Ibadah Haji

Selasa , 05 Jul 2022, 05:40 WIB Reporter :Alkhaledi Kurnialam/ Redaktur : Ani Nursalikah
Masjidil Haram tempo dulu. Deskripsi Menyentuh Seorang Yahudi yang Masuk Islam tentang Ibadah Haji
Masjidil Haram tempo dulu. Deskripsi Menyentuh Seorang Yahudi yang Masuk Islam tentang Ibadah Haji

Hajar Aswad

 

Terkait

Tertanam di sudut timur bangunan dan dibiarkan terbuka adalah batu berwarna gelap yang dikelilingi oleh bingkai perak yang besar. Hajar Aswad ini, yang telah dicium oleh banyak generasi peziarah, telah menyebabkan banyak kesalahpahaman di kalangan non-Muslim yang percaya itu adalah jimat yang diambil alih oleh Muhammad SAW sebagai konsesi kepada orang-orang kafir Makkah.

Menurut Asad, sama seperti Ka'bah, Hajar Aswad adalah objek penghormatan, bukan pemujaan. Benda itu dihormati sebagai satu-satunya sisa bangunan asli Nabi Ibrahim dan karena bibir nabi Muhammad SAW menyentuhnya pada Haji Wada. Semua peziarah telah melakukan hal yang sama sejak saat itu.

Nabi, katanya, sangat menyadari bahwa semua generasi selanjutnya dari umat beriman akan selalu mengikuti teladannya: dan ketika dia mencium batu itu, dia tahu bahwa di atasnya bibir para peziarah masa depan akan selamanya bertemu dengan ingatan bibirnya dalam pelukan simbolis yang dia tawarkan, melampaui waktu dan melampaui kematian, kepada seluruh komunitasnya.

Dan para peziarah, ketika mereka mencium Hajar Aswad, merasa bahwa mereka sedang memeluk Nabi dan semua Muslim lainnya yang telah berada di sini sebelum mereka dan mereka yang akan datang setelah mereka.

Arafah

Asad mengisahkan pengalamannya melakukan wukuf di tengah panas matahari dan di tengah-tengah ribuan jamaah haji yang melakukan hal serupa. Hal ini mengingatkannya tentang upaya banyak jamaah selama ribuan tahun unyuk melakukan ritual ini.

"Dan saat aku berdiri di puncak bukit dan menatap ke bawah ke arah Dataran Arafat yang tak terlihat, kebiruan cahaya bulan dari lanskap di depanku, begitu mati beberapa saat yang lalu, tiba-tiba hidup kembali dengan arus semua kehidupan manusia. Yang telah melewatinya dan dipenuhi dengan suara-suara menakutkan dari jutaan pria dan wanita yang telah berjalan atau berkuda antara Makkah dan Arafah dalam lebih dari 1.300 ziarah selama lebih dari 1.300 tahun," jelasnya.