Tiga Kloter Terakhir Dipulangkan dari Madinah ke Tanah Air Besok

Jumat , 12 Aug 2022, 17:04 WIB Reporter :A Syalaby Icshan/ Redaktur : Agung Sasongko
Jamaah Haji Indonesia (ilustrasi)
Jamaah Haji Indonesia (ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, MADINAH — Tiga kloter terakhir jamaah haji Indonesia dipulangkan dari Madinah, Arab Saudi, ke Indonesia pada Sabtu (13/8). Pelepasan jamaah akan dilakukan secara simbolis oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Kemenag) Nizar Ali di Bandara Prince Mohamed bin Abdul Aziz, Madinah. Pemulangan ini sekaligus menjadi akhir tugas dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Tanah Suci.

 

Terkait

Berdasarkan jadwal yang dilansir dari PPIH, ada sejumlah 811 jamaah berasal dari tiga kloter berbeda yakni Balikpapan (BPN-8), Solo (SOC-42), dan Solo (SOC-43). Mereka berangkat dari Hotel Golden Hayah menuju bandara secara bergelombang dari 12 Agustus pukul 18.50 WAS hingga 13 Agustus pukul 6.30. Semua jamaah akan diterbangkan dengan pesawat Garuda Indonesia pada 13 Agustus dari pukul 0.50 hingga 12.30 WAS.

Baca Juga

“Untuk kesiapan sudah selesai utamanya dari sistem dan sebagainya. Transportasi dari hotel ke bandara dan flightnya sudah dikonfirmasi,”jelas Kepala Daker Madinah Amin Handoyo saat diwawancara di Kantor Daker Madinah, Madinah, Jumat (12/8/2022).

Sementara itu, Amin mengungkapkan, masih ada satu jamaah sakit yang penerbangannya akan menyusul karena harus rawat inap. Jamaah asal Kalimantan Selatan tersebut sedang dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah. Menurut Amin, jamaah haji khusus tersebut pun bisa saja dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi mengingat layanan di KKHI juga tutup pada 13 Agustus.

Amin menjelaskan, pihaknya sudah mendapat jaminan dari pihak travel yang akan melakukan pendampingan jamaah dari Kalimantan Selatan itu. Tidak hanya itu, pihak Kantor Urusan Haji (KUH) dari Konsulat Jenderal RI di Jeddah juga akan mendampingi jamaah selama dirawat di RSAS.

Menurut Amin, pemulangan jamaah sakit memang tidak mudah mengingat pasien yang bersangkutan harus dalam kondisi berbaring (lay down). "Itu membutuhkan enam seat (bangku). Tidak mudah,"jelas dia.

Dia menjelaskan, enam bangku itu pun harus menunggu konfirmasi dari pihak maskapai dalam hal ini Garuda Indonesia dan kesiapan dokumen informasi medis (medical information/medif) dari RSAS. Tidak hanya itu, kesehatan jamaah akan diperiksa kembali di klinik bandara apakah sudah layak terbang atau tidak.

"Dokumennya harus dikatakan layak dari sisi medis,"ujar dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini