Selasa 13 Sep 2022 16:45 WIB

Kasbah, Saksi Perjuangan Umat Islam di Aljazair

Kasbah diibaratkan seperti perahu Nabi Nuh yang dihuni banyak kehidupan.

Lanskap Kasbah Aljir, Aljazair
Foto:

Pada abad ke-6 SM, situs bersejarah ini pernah dihuni oleh pedagang Fenisia, dan juga orang-orang Carthage. Kemudian, pada abad ke-7, datanglah berbagai suku dan bangsa, seperti Barbar, Roma, Bizantium, dan Arab. "Berbagai suku seperti Barbar, Roma, Bizantium, dan Arab bergantian datang ke sini dan akhirnya mengambil kota," catat Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO).

Sejak 1830 M, Aljazair dijajah oleh Prancis selama 13 dekade, setelah sebelumnya dikuasai Spanyol dan Turki. Dulu, Kasbah merupakan taman dan istana, tapi sekarang ini sudah banyak diisi oleh rumah warga.

Pada masa penjajahan, Prancis menamakan jalan-jalan di kawasan itu dengan nama tokoh-tokoh Prancis, seperti Charlemagne, Chartres, dan lain-lain. Selama terjadi perang kemerdekaan Aljazair, darah pejuang bangsa banyak ditumpahkan di Kasbah. 

Kawasan ini terdiri atas sekitar 60 hektare rumah-rumah yang dibangun secara padat, dan terdapat 350 jalan-jalan yang berliku. Se karang Kasbah menjadi rumah bagi sekitar 80 ribu orang dari total 3,5 juta penduduk Aljazair.

Pada abad ke-17, terdapat ratusan tawanan Eropa yang ditahan di Aljazair. Ketika terjadi perang antara Inggris dan Aljazair pada 1677 sampai 1682, setidaknya ada 3.000 sandera yang diculik dari 500 kapal Inggris.

Di antara yang disandera adalah seorang kapten laut Genoa bernama Piccinini, yang akhirnya masuk Islam pada 1622 dan meng ubah namanya menjadi Ali Bitchnine. Dia menikahi putri seorang sultan dari Suku Barbar, kemudian menjadi laksamana armada bajak laut dan mensponsori pembangunan sebuah masjid.

 

 

sumber : Islam Digest
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement