Memproteksi Niat

Selasa , 20 Sep 2022, 22:10 WIB Redaktur : Agung Sasongko
Niat. Ilustrasi sholat. Ilustrasi takbiratul ihram
Niat. Ilustrasi sholat. Ilustrasi takbiratul ihram

IHRAM.CO.ID,OLEH BAIQ IKA SUFRIAWATI AMRUS

 

Terkait

Perkara pertama yang harus dicermati oleh seorang Muslim adalah urusan niat. Memasang niat Lillahi Ta'ala ini sangat urgen karena di sinilah amalan kita dinilai layak mendapat reward pahala atau sia-sia belaka. Memasang niat yang tepat kemudian memproteksinya adalah syarat utama diterimanya amal.

Baca Juga

Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hafsah, Umar bin Al-Khathab:

Sesungguhnya amal perbuatan bergantung pada niat dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul- Nya, ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan (HR Bukhari dan Muslim).

Fungsi niat adalah membedakan antara ibadah dengan rutinitas dan membedakan antara ibadah yang satu dengan yang lainnya. Makna niat yang pertama, yaitu membedakan tujuan suatu perbuatan, yang membedakan apakah suatu ibadah semata-mata ikhlas karena Allah SWT atau karena yang lainnya. Adapun yang kedua fungsi niat membedakan apakah ibadah tersebut hukumnya wajib atau sunah. Dikerjakan secara berjamaah atau shalat sendirian. Sebagai makmum atau imam.

Imam Sufyan Atsauri berkata, "Tidak ada perkara yang aku proteksi paling berat kecuali niat. Sebab hati bisa berubah-ubah." Ibadah yang sejatinya diperuntukkan taqarrub kepada Allah bila ditunaikan dengan motif riya malah sia-sia tiada bernilai. Ini karena syirik niat, bukan mengharap ridha Allah.Allah lalu cukupkan dia dengan kepuasan meraih tujuannya tersebut.

Ibnul Mubarak Rahimahullah pernah mengatakan, Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.

Berjihad dan menjadi pemimpin adalah perkara besar. Namun, jika motivasi awal untuk memperoleh gonimah dan memperkaya diri bagi pemimpin, pahalanya akan cacat. Sengaja berkontribusi pembangunan masjid dalam jumlah besar adalah perkara berat. Namun, jika niat untuk pamer dan mengangkat reputasi, akan menodai amal.

Adapun perkara seolah kecil, seperti mengajari anak-anak mengaji, menjadi guru honorer swasta, mengangkat paku beling di jalanan, memasang lampu sebagai penerang jalan, bahkan sekadar melempar senyum adalah urusan besar lagi mulia bagi Allah SWT jika dilaksanakan dengan tulus ikhlas.

Imam Hujjatul Islam al-Ghazali berkata dalam kitab al-Arba'in al-Ashl, "Sesungguhnya sesuatu yang mubah itu kadang lebih utama daripada ibadah jika disertai dengan niat yang baik. Barang siapa yang makan dan minum berniat agar kuat dalam ibadah dan tidak ada niat baginya untuk puasa ketika itu, makannya lebih utama. Dan barang siapa yang merasa bosan dalam ibadah dan dia mengetahui andaikan tidur terlebih dahulu dapat mengembalikan semangatnya dalam ibadah, tidurnya lebih utama. Bahkan, misalnya seseorang mengetahui bahwa kesenangan dengan bergurau atau berbincang- bincang dengan perbincangan yang mubah pada waktu itu bisa mengembalikan semangatnya dalam shalat.Maka, hal itu lebih utama daripada dia shalat dengan perasaan jenuh.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini