Jumat 28 Oct 2022 17:17 WIB

Mengenal Sosok Haji Sulong al-Fatani, Ulama Pejuang dari Patani

Haji Sulong lahir di Kampung Anka Ru, Patani, pada 1895.

Muslim Pattani Thailand, menjalankan ibadah Shalat Id di sebuah masjid di Provinsi Pattani, Thailand Selatan, Ahad (24/5).
Foto: REUTERS/Surapan Boonthanom
Muslim Pattani Thailand, menjalankan ibadah Shalat Id di sebuah masjid di Provinsi Pattani, Thailand Selatan, Ahad (24/5).

IHRAM.CO.ID, Sejarah mencatat seorang ulama pejuang yang gigih mempertahankan syiar Islam di Patani, Thailand. Ia adalah Haji Sulong bin Haji Abdul Kadir bin Muhammad bin Haji Zainal Abidin bin Ahmad al-Fatani. Haji Sulong bahkan dikenal juga sebagai Imam Bonjol Patani.

Haji Sulong lahir di Kampung Anka Ru, Patani, pada 1895. Sejak kecil hingga kepergiannya mengha dap Sang Khalik, ia selalu ber juang menegakkan Islam. Ia pun selalu berusaha membangkitkan semangat Revolusi Patani Merdeka, baik pada masa Kerajaan Siam (sekarang Thailand) maupun saat penjajahan Jepang. Tak heran, masyarakat Patani menyebutnya sebagai Bapak Perjuangan Patani.

Baca Juga

Saat masih anak-anak, Haji Sulong belajar ilmu agama Islam dan Alquran dari ayahnya, Haji Abdul Kadir al-Fatani. Seperti ditulis laman www.utusan.com.my, Haji Sulong juga selalu mengikuti ayahnya belajar kepada Syekh Ahmad al- Fatani.

Pertemuan dengan Syekh Ahmad al-Fatani diyakini telah menumbuhkan jiwa kepe mimpinan pada diri Haji Sulong. Bisa jadi pula, saat itu Syekh Ahmad al-Fatani telah melihat jiwa kepemimpinan dan wibawa dalam diri Haji Sulong meski usianya masih sangat muda.

 

Saat berusia 12 tahun, sang ayah mengirim Haji Sulong ke Makkah untuk menggali ilmu agama. Sejarah mencatat, ia menetap di Arab Saudi selama 17 tahun. Selama di Tanah Suci, tulis laman www.halaqah.net, Haji Sulong berguru pada banyak ulama dari berbagai negara. Di antaranya ulama dari Arab Saudi, Mesir, juga ulama-ulama nusantara yang sedang berada di Tanah Suci.

Saat memperdalam ilmu agama di Makkah inilah, Haji Sulong mengakhiri masa lajang. Pada 1924, ia dan istrinya kembali ke Patani. Sema ngat juangnya pun tergugah tat kala melihat kondisi Patani yang jauh lebih buruk dibanding saat ditinggalkannya ke Makkah.

Ia melihat kekuasaan Kerajaan Siam mulai masuk ke segenap relung kehidupan masyarakat Patani dan wilayah lainnya di Semenanjung Utara. Kerajaan Siam mulai meng atur segala urusan kehidupan masyarakat Patani.

Saat itu, jelas terlihat bahwa Kerajaan Siam menginginkan Patani masuk dalam wilayahnya dan berusaha melunturkan pengaruh Islam di wilayah ini. Sultan Patani yang berkuasa saat itu menentang keras ekspansi Kerajaan Siam yang kemudian ber ujung pada pencopotan gelar dan pengasingan sultan.

sumber : Republika
Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement