Senin 14 Nov 2022 20:30 WIB

Harran, Pusat Penerjemahan Dinasti Abbasiyah

Harran yang terletak di wilayah Turki saat ini atau Mesopotamia Atas di masa lalu.

Sisa-sisa reruntuhan bangunan madrasah dari abad ke-12 ditemukan di Harran, Turki.
Foto: Anadolu Agency
Sisa-sisa reruntuhan bangunan madrasah dari abad ke-12 ditemukan di Harran, Turki.

IHRAM.CO.ID, Harran yang terletak di wilayah Turki saat ini atau Mesopotamia Atas pada masa lalu adalah kota yang menjadi lokasi bagi pusat penerjemahan pada masa Dinasti Abbasiyah. Letaknya yang di wilayah Asia Minor membuat Harran mudah menjadi tempat berkumpulnya para ahli bahasa Yunani dari Suriah.

Saat itu, penerjemahan dilakukan secara tradisional. Ketika terbentur dengan kalimat-kalimat yang sulit dipahami dalam bahasa aslinya, terjemahan dilakukan kata demi kata.

Baca Juga

Ketika satu istilah tidak dijumpai atau dikenal padanannya dalam bahasa Arab, istilah-istilah tersebut diterjemahkan secara sederhana dengan beberapa adaptasi. Seperti, istilah aritmatika dalam bahasa Arab menjadi aritsmathiqi, geometri menjadi jumathriya, geografi menjadi jigrafiyah, filsafat menjadi falsafah, magnet menjadi maghnaathis, dan organ menjadi urghun.

Dari Sekolah Harran, lahirlah al- Hajjaj Ibn Yusuf Ibn Mathar (wafat 833 M), seorang penerjemah naskah matematika dan astronomi yang dikenal karena menjadi orang pertama yang menerjemahkan karya Eullides, yaitu Element dan Almagest, karya Ptolemeus. Karya terjemahan edisi pertama itu dibuat dalam dua versi, yaitu untuk Khalifah Harun al-Rasyid dan untuk Khalifah al-Ma’mun, sebelum Hunayn menerjemahkan kembali buku itu.

 

Al-Hajjaj menerjemahkan Almagest, buku tentang astronomi berbahasa Aramaik. Upaya pertama untuk menerjemahkan Almagest telah dilakukan sejak masa pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid, namun hasil terjemahan tidak memuaskan. Penerjemahan buku tersebut kemudian dilakukan oleh penerjemah yang juga ahli astronomi dan matematika Islam, Abu al Wafa Muhammad al-Buzjani al- Hasib (wafat 998 M).

Selain al-Hajjaj, lahir juga penerjemah naskah matematika dan astronomi lainnya, yakni Quatha Ibn Luqa (wafat 922 M) yang telah menghasilkan 34 karya terjemahan. Kemudian, muncul Yahya Ibn Adi (wafat 974 M) dan Abu Ali Isa Ibn Zur’ah (wafat 1008 M). Mereka memperbaiki naskah terjemahan dari karya-karya Aristoteles.

Tak hanya sekolah penerjemahan di Harran, pada masa Khalifah al Ma’mun juga dibangun Bayt al-Hik mah di Baghdad. Bayt al-Hikmah me rupakan sebuah perpustakaan, aka demi, sekaligus biro penerjemahan. Buku-buku yang terdapat dalam Bayt al-Hikmah yang berbahasa selain bahasa Arab (bahasa Yunani, India, dan Persia) diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Buku-buku yang diterjemahkan tersebut adalah buku-buku matematika, astronomi, kedokteran, kimia, dan geografi.

Di Bayt al-Hikmah, buku-buku di simpan sesuai dengan kategori tertentu dan di sini para cendekiawan yang juga penerjemah berkumpul tuk berdiskusi dan menerjemah kan. Banyak sekali manuskrip ataupun buku dalam berbagai subjek yang diterjemahkan di Bayt al Hikmah. Namun, sebagian besar karya terjemahan tersebut hancur akibat serangan Mongol atas Baghdad pada 1258 M dan hanya sedikit naskah berhasil diselamatkan ke Armenia. 

sumber : Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement