Sabtu 26 Nov 2022 03:33 WIB

Ilmuwan-Ilmuwan Terkemuka era Dinasti al-Murabitun

Dinasti Al-Murabitun berbagai bidang ilmu pengetahuan dikembangkan.

Tentara Dinasti Al-Murabitun (ilustrasi)
Foto:

- Ibnu Zuhr

Dunia kedokteran Islam telah mengenal dan menguasai penyakit jantung sejak 900 tahun silam. Menurut Rabie Abdel-Halim dan Salah R Elfaqih dalam karyanya bertajuk  Pericardial Pathology 900 Years Ago: A Study and Translations from an Arabic Medical Textbook, salah seorang dokter Muslim yang sudah mengkaji dan menguasai pengobatan penyakit jantung di zaman keemasan Islam adalah Ibnu Zuhr (1091-1161 M) atau dikenal dengan nama Avenzoar di dunia Barat.

Berdasarkan hasil kajian dari Kitab al-Taysir, karya dokter Muslim legendaris dari Andalusia itu, para sejarawan sains menemukan fakta bahwa Ibnu Zuhr sudah menguasai pengobatan pericarditis. Pericarditis merupakan penyakit peradangan pada pericardium (kantong yang mengelilingi jantung).

Pericarditis dapat menyebabkan cairan menumpuk di dalam pericardium dan menekan jantung, membatasi kemampuan jantung untuk mengisi dan memompa darah.

Ibnu Zuhr yang diahirkan di Sevilla, Spanyol, pada tahun 1091 M ini dikenal sebagai dokter, apoteker, ahli bedah, sarjana Islam, dan seorang guru. Beberapa sejarawan menyebut Ibnu Zuhr sebagai orang Yahudi, namun Bapak Sejarah Sains, George Sarton memastikan bahwa sang dokter adalah seorang Muslim.

Ia menimba ilmu kedokteran di Universitas Cordoba. Ibnu Zuhr merupakan keturunan dari keluarga Bani Zuhr yang melahirkan lima generasi dokter, termasuk dua di antaranya wanita. Ia pertama kali belajar praktik kedokteran dari ayahnya bernama Abu’l-Ala Zuhr (wafat tahun 1131 M). Kakeknya juga adalah seorang dokter yang termasyhur di Andalusia.

Setelah merampungkan studinya di bidang sastra dan hukum, Ibnu Zuhr mulai mendalami ilmu kedokteran secara khusus. Ibnu Zuhr lalu mendedikasikan dirinya untuk penguasa Dinasti al-Murabitun. Hubungannya dengan penguasa Dinasti Al-Murabitun memburuk ketika Ali bin Yusuf bin Tasyfin berkuasa.

Ibnu Zuhr lalu dipenjara selama 10 tahun di Marrakech. Setelah kekuasaan dinasti itu berakhir, Ibnu Zuhr kembali ke Andalusia dan mengabdi pada Abdul Mukmin bin Ali penguasa pertama Dinasti Muwahiddun. Di era kekuasaan Dinasti Muwahidun, Ibnu Zuhr menulis karya-karyanya. Ia tutup usia pada 1161 M di tanah kelahirannya, Seville. Meski begitu, ia tetap dikenang dan namanya masih tetap abadi.

Ibnu Zuhr mewariskan beberapa kitab kedokteran penting bagi peradaban manusia modern, seperti Kitab at-Taysirfi al-Mudawat wa at-Tadbir (Perawatan dan Diet) dan Kitab al-Iktisad fi Islah an-Nufus wa al-Ajsad ( Perawatan Jiwa dan Raga) yang berisi rangkuman berbagai penyakit, perawatannya, pencegahan, kesehatan, dan psikoterapi. Salinan kitab ini masih tersimpan di perpustakaan istana di Rabat.

Karyanya yang lain adalah Kitab al-Aghdia wa al-Adwya (Nutrisi dan Obat). Dalam kitab itu, Ibnu Zuhr menjelaskan beragam jenis makanan bergizi, obat-obatan, serta dampaknya bagi kesehatan risalah. Dua salinannya masih tersimpan dengan baik di perpustakaan istana di Rabat. Lewat karya-karyanya itulah pemikiran Ibnu Zuhr hingga kini tak pernah mati.

 

 

sumber : Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement