Kerja dalam Islam

Kamis , 01 Dec 2022, 20:01 WIB Redaktur : Agung Sasongko
Ilustrasi Orang bekerja di kantor.
Ilustrasi Orang bekerja di kantor.

IHRAM.CO.ID, Oleh: Fadhlullah Muhammad Said

 

Terkait

Manusia secara fitrah tidak bisa di lepaskan dari dunia kerja dalam arti yang luas, termasuk kerja da lam mengabdi pada Penciptanya, sebagai tujan manusia diciptakaan. Manusia diciptakan oleh Tuhan bukan hanya sebagai hias an kerja atau sebagai pengagguran, tapi juga sebagai suatu ciptaan yang di be rikan tugas. Dan salah satu tugasnya ialah memelihara ciptaan itu dengan kerja.

Baca Juga

Dengan demikian, kerja merupakan tugas Ilahi yang mengandung kewajiban dan hak. Bahkan, Islam telah menetapkan bahwa bekerja itu adalah suatu kemulia an. Allah mengancam dan melaknat orang yang bermalas-malas didalam hi dupnya dan kegiatannya hanya memintaminta, menyandarkan hidupnya pada ban tuan orang lain, dan menjadi beban orang lain. Manusia adalah makhluk kerja, seperti halnya hewan yang juga bekerja dengan gayanya sendiri atau makhluk lainnya.

Kerja dalam bahasa Alquran menarik untuk didiskusikan. Ia disebut amal. Kata amal (kerja) digunakan oleh Alquran untuk menggambarkan perbuatan yang disadari oleh manusia dan jin. Kata amal dalam Alquran seringkali dikemukakan dengan bentuk indefinitif (nakirah).

Bentuk ini oleh pakar-pakar bahasa dipahami sebagai memberi makna ke umuman, sehingga amal yang dimaksudkan mencakup segala macam dan jenis kerja. Disebutkan dalam surat Ali Imran [3]:195. “Aku (Allah) tidak menyia-yiakan kerja salah seorang di antara kamu baik lelaki maupun perempuan”. Pada ayat yang lain, Alquran tidak hanya memerintahkan orang-orang Muslim ntuk beker ja, tetapi juga kepada selainnya. Dalam surat Al-An'am [6]:135 ditegaskan, “Hai kaumku (orang-orang kafir), berbuatlah sepenuh kemampuan (dan sesuai kehendak). Aku pun akan berbuat (demikian). Kelak kamu akan mengetahui siapakah di antara kita yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia/akhirat”.

 

Menurut beberapa pakar bahasa bah wa kata amal dalam Alquran tidak se mua nya mengandung arti berwujudnya suatu pekerjaan atau aktivitas di alam nyata. Niat untuk melakukan sesuatu yang baik--menurut mereka juga dinamai amal. Rasulullah SAW menilai bahwa niat baik seseorang memperoleh ganjaran di sisi Allah. Hal ini dipahami dari maksud surat al-Zalzalah ayat 7: “Dan barang siapa yang mengamalkan kebajikan wa laupun sebesar biji sawi niscaya ia akan mendapatkan (ganjaran)-nya”.

 

Amal atau kerja dalam pandangan Alquran bukan sekadar upaya memenuhi kebutuhan makan, minum, atau rekreasi. Tetapi, kerja beraneka ragam sesuai de ngan keragaman daya dan potensi yang dimiliki manusia. Dalam hal ini Rasulullah SAW. mengingatkan: Yang berakal selama akalnya belum terkalahkan oleh nafsunya, berkewajiban mengatur waktu-waktunya (untuk beraktivitas dan bekerja).

 

Ada waktu yang digunakan untuk ber munajat (berdialog) dengan Tuhannya, ada juga untuk melakukan introspeksi. Kemu dian ada juga untuk memikirkan ciptaan Allah (belajar), dan ada pula yang dikhu suskan untuk diri (dan keluarganya) guna memenuhi kebutuhan makan dan minum (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al- Hakim melalui Abu Dzar Al-Ghifari).

 

Peran Islam bukan semata-mata memerintahkan kerja, tapi hendaknya konsekuensi iman seorang mukmin tidak cukup hanya sekedar melaksanakan ker ja. Hal yang menarik, Islam mengajarkan pendekatan personal atau pribadi kepada Tuhan melalui ibadah dan aktivitas kerja dalam amal kebajikan.

 

Watak ajaran agama Islam sendiri berkenaan dengan kerja menurut Frithjof Schuan (Muhammad Isa Nuruddin), seorang failasuf Muslim dari Swiss, yang menggolongkan Nabi Muhammad SAW bersama Nabi Ibrahim dan Nabi Musa karena mereka adalah nabi-nabi yang mengajarkan tentang Tuhan Yang Maha Esa dan pendekatannya melalui amal perbuatan yang baik sehingga ajaran mereka diesebut ‘ethical monotheism’. Spririt dan watak Alquran tidak hanya memerintahkan asal kerja, tetapi kerja harus dengan ihsan dalam arti sungguhsungguh, sepenuh hati, berusaha seoptimal mungkin melakukan pekerjaan secara profesional. Mengerahkan semua kemampuan untuk kebaikan dan akurasi pekerjaan

 

Umar bin Khaththab menegaskan bah wa di dunia ini tidak ada waktu untuk ber santai-santai. Dengan demikian, bila be ker ja, kerjakanlah sesuatu dengan tulus, ikhlas dan jujur, seperti malaikat tanpa pamrih. Ingatlah bahwa bekerja karena Allah bukan karena yang lain, jadikan ini ibadah kepada Allah. Berprestasilah de ngan setinggi-tingginya di setiap pekerjaan, karena Allah, Rasul-Nya, dan kaum muslimin akan menjadi saksinya. Tidak perlu minta diawasi oleh orang lain, atau me minta penghargaan dari orang lain, biarlah Allah yang menghargai, bukan me reka. Walhasil semoga Allah, rasul, dan kaum muslimin melihat dan menjadi saksi atas kualitas dan prestasi kerja kita semua. ¦

 

sumber : Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini