Senin 19 Dec 2022 14:21 WIB

Jamaah Indonesia Puas dengan Pelayanan Haji 2022, Kemenag: Paling Monumental

Jamaah ibadah haji 2022 relatif jauh dari kondisi risiko tinggi (risti).

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Ani Nursalikah
Jamaah haji berjalan saat turun dari pesawat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Kamis (/28/7/2022). Sebanyak 394 jamaah haji kloter pertama Debarkasi Makassar asal Makassar, Soppeng dan Pare-Pare tiba kembali di tanah air seusai menunaikan ibadah haji. Jamaah Indonesia Puas dengan Pelayanan Haji 2022, Kemenag: Paling Monumental
Foto: ANTARA/Abriawan Abhe
Jamaah haji berjalan saat turun dari pesawat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Kamis (/28/7/2022). Sebanyak 394 jamaah haji kloter pertama Debarkasi Makassar asal Makassar, Soppeng dan Pare-Pare tiba kembali di tanah air seusai menunaikan ibadah haji. Jamaah Indonesia Puas dengan Pelayanan Haji 2022, Kemenag: Paling Monumental

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (Kemenag) Suyitno menyebut hasil Indeks Kepuasan Jamaah Haji Indonesia (IKJHI) 1443H/2022M Badan Pusat Statistik (BPS) paling monumental. Capaian yang memuaskan ini disebut harus diapresiasi.

"Dari hasil yang disampaikan, ini sesuatu yang harus diapresiasi. Dalam sejarah, 2022 ini tahun paling monumental karena capaiannya luar biasa, sangat memuaskan. Ini patut disyukuri, diapresiasi, khususnya pada keluarga besar Kemenag terutama di Ditjen PHU," ucap dia dalam Rilis Hasil Survei Kepuasan Jamaah Haji Indonesia (SKJHI) 1443H/2022M, Senin (19/12/2022).

Baca Juga

Dari beberapa instrumen yang disampaikan, ia juga menyebut ada hal-hal yang menjadi catatan, terutama berkaitan dengan karakteristik jamaah. Jika dibandingkan dengan pelaksanaan haji sebelumnya, jamaah ibadah haji 2022 relatif jauh dari kondisi risiko tinggi (risti).

Karena itu, ia menyebut ke depan utamanya pada pengelenggaraan haji 2023, diperlukan mitigasi yang lebih serius. Hal ini menyusul keinginan seluruh pihak, termasuk jamaah, yang meminta kuota kembali normal dan tanpa batasan seperti pada 2019.

"Ini perlu mitigasi yang lebih serius. Utamanya untuk hal-hal yang tidak boleh terulang di tahun-tahun sebelumnya. Simpelnya, berarti pesertanya seperti 2022, tapi tidak mungkin. Ini tuntutan ibadah, jamaah, pelaksanaan rukun Islam," lanjut dia.

Suyitno pun menyebut dirinya optimistis pengalaman haji 2022 menjadi sebuah pembelajaran atau lesson learned bagi seluruh petugas. Beberapa karakteristik jamaah haji 2022 dan 2019 disebut juga memiliki kesamaan.

Dari sejumlah layanan yang disediakan, salah satu yang angkanya mendominasi adalah layanan bus dan konsumsi. Dua hal ini disebut merupakan pemicu indeks yang bisa menjadi pembelajaran agar semakin ditingkatkan.

Adapun terkait kepuasan jamaah terhadap layanan yang diberikan petugas, angkanya signifikan yaitu 90,32 poin, naik dari 87,66 di 2019. Ia menyebut beberapa hal yang mendorong peningkatan indeks berkaitan dengan keramahan dan respons cepat.

"Angka bimbingan ibadah juga naik. Hal ini menjadi concern Gus Men, jangan sampai jamaah sudah berangkat ibadah namun saat pulang masih ada keraguan apakah ibadahnya sah atau tidak. Karena itu, optimalisasi petugas di bidang layanan bimbingan ibadah menjadi fokus dari Gus Men," katanya.

Terakhir, Suyitno menyebut hasil, catatan dan kesimpulan yang muncul dari survei ini akan disampaikan kepada Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Ia pun berharap agar indeks haji 2023 nanti capaiannya bisa lebih tinggi.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement