Kamis 09 Feb 2023 18:44 WIB

Bangladesh Klaim tidak Ada Krisis Kebutuhan Pokok Selama Ramadhan 2023

Menurut pemerintah, warga Bangladesh bisa mendapat kebutuhan pokok yang diinginkan.

Rep: Mabruroh/ Red: Ani Nursalikah
 Muslim Bangladesh membeli makanan untuk berbuka puasa selama bulan suci Ramadhan di pasar makanan tradisional di Chalk bazar di Dhaka, Bangladesh, 04 April 2022. Muslim di seluruh dunia merayakan bulan suci Ramadhan dengan berdoa pada malam hari dan menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual selama periode antara matahari terbit dan terbenam. Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam kalender Islam dan diyakini bahwa turunnya ayat pertama dalam Alquran adalah selama 10 malam terakhirnya. Bangladesh Klaim tidak Ada Krisis Kebutuhan Pokok Selama Ramadhan 2023
Foto: EPA-EFE/MONIRUL ALAM
Muslim Bangladesh membeli makanan untuk berbuka puasa selama bulan suci Ramadhan di pasar makanan tradisional di Chalk bazar di Dhaka, Bangladesh, 04 April 2022. Muslim di seluruh dunia merayakan bulan suci Ramadhan dengan berdoa pada malam hari dan menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual selama periode antara matahari terbit dan terbenam. Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam kalender Islam dan diyakini bahwa turunnya ayat pertama dalam Alquran adalah selama 10 malam terakhirnya. Bangladesh Klaim tidak Ada Krisis Kebutuhan Pokok Selama Ramadhan 2023

IHRAM.CO.ID, DHAKA -- Menteri Perdagangan Bangladesh Tipu Munshi menegaskan kembali tidak akan ada krisis komoditas penting di dalam negeri selama bulan suci Ramadhan 2023.

"Tidak akan ada krisis bahan pokok selama bulan Ramadhan. Konsumen bisa mendapatkan barang kebutuhan pokok yang diinginkan, sebagai akibat dari langkah pragmatis yang diambil pemerintah," katanya dikutip di BSS News, Kamis (9/2/2023).

Baca Juga

Pernyataan Menteri Perdagangan ini muncul dari pertemuan Komite Kabinet untuk Pembelian Pemerintah (CCGP) yang diadakan Divisi Kabinet di Sekretariat Bangladesh. Menteri Pertanian Mohammad Abdur Razzaque hadir sebagai ketua.

Pertemuan tersebut menyetujui proposal terpisah pengadaan sekitar 1,10 crore minyak kedelai melalui metode tender terbuka lokal. Disetujui pula pengadaan 8.000 metrik ton lentil melalui metode tender terbuka internasional.

 

Tipu mengatakan, pemerintah biasanya harus membeli barang-barang penting untuk Trading Corporation of Bangladesh (TCB) yang dikelola negara. Sementara, mereka harus membeli lebih banyak menjelang Bulan Suci Ramadhan.

Minyak kedelai dan lentil akan dijual di antara hampir satu juta pemegang kartu keluarga. Selain itu, LC dibuka untuk pengadaan barang-barang penting lainnya, karena importir sekarang dapat membuka LC meskipun ada beberapa kesulitan pada tahap awal.

Lebih lanjut, ia mengatakan impor buah-buahan ditiadakan untuk menyelamatkan cadangan devisa. Negara saat ini disebut telah memproduksi buah-buahan yang cukup.

“Jadi, impor buah-buahan ditiadakan agar tidak menekan cadangan devisa sehingga petani mendapatkan harga yang wajar dari hasil produksi lokalnya,” lanjut dia.

Sekretaris tambahan Divisi Kabinet Sayeed Mahbub Khan mengatakan pertemuan CCGP menyetujui total 15 proposal. TCB akan membeli sekitar 1,10 crore liter minyak kedelai dengan Taka 194,56 crore, sedangkan minyak kedelai per liter akan menelan biaya Taka 176,88 dibandingkan dengan harga Taka 177 sebelumnya. Kilang Minyak Goreng Meghna akan memasok minyak nabati ini.

Selain itu, TCB akan mendapatkan sekitar 8.000 metrik ton lentil dengan Taka 73,28 crore, sedangkan per kg lentil akan menelan biaya Taka 91,60. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement