Oleh: Ratna Puspita, Wartawan Republika
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ji’ranah merupakan sebuah desa yang berjarak sekitar 26 km dari Masjidil Haram. Lokasinya berada di perbatasan Kota Makkah ke arah Thaif. Rasulallah SAW pernah singgah di tempat ini sepulangnya dari perang Hunain. Beliau bermukim selama 13 hari di Ji'ranah, kemudian melakukan umrah. Di lokasi Rasullah SAW melakukan miqat dibangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Ji'ranah.
Saya dan beberapa teman Media Center Haji 2015 melakukan umrah dari Ji'ranah pada pekan kedua Oktober tahun lalu. Kami menuju Ji'ranah selepas isya'. Jam menunjukkan hampir setengah sembilan malam ketika saya tiba di Masjid Ji'ranah.
(Baca: Di Mana Saja Lokasi Miqat)
Masjid ini berwarna putih dengan menara yang dilengkapi lampu berwarna hijau. Turun dari mobil, sebuah papan besar berwarna biru menyambut kami. Papan itu bertuliskan: "pekuburuan al Ji'ranah sama saja dengan kaum Muslimin lainnya, dan tidak ada riwayat bahwa syuhada perang Hunain dimakamkan di sana." Pengumuman itu karena banyak yang melakukan ziarah ke pemakaman di Ji'ranah lantaran anggapan syuhada perang Hunain dimakamkan di lokasi itu.
Masjid Ji'ranah lebih besar dibandingkan Masjid Hudaibiyah. Namun, lebih kecil dibandingkan Masjid Tan'im. Luas Masjid Ji'ranah mencapai 1.600 meter persegi dan 'hanya' dapat menampung hingga 1.000 jamaah. Tapi, fasilitas masjid ini cukup lengkap. Ada kamar mandi, tempat wudhu, dan area parkir yang luas.
(Baca: Kesederhanaan Miqat di Hudaibiyah )
Seperti halnya miqat di Hudaibiyah, Masjid Ji'ranah juga tidak seramai Masjid Tan'im. Saya hanya bertemu satu rombongan jamaah dari Indonesia ketika hendak berihram dari masjid ini. Namun, berdasarkan pengalaman saya, masjid ini paling bersih dibandingkan dua tempat miqat lainnya, yaitu masjid di Hudaibiyah dan Masjid Tan'im.
Saya sangat senang dengan kebersihan masjid ini. Terlebih mengingat asal muasal nama desa. Legenda mengatakan nama Ji'ranah merupakan nama seorang perempuan yang mengabdikan dirinya menjaga dan membersihkan sebuah masjid di desa tersebut. Bagi saya, kebersihan Masjid Ji'ranah merupakan penghargaan untuk Ji'ranah.
(Baca: Miqat di Masjid Aisyah)
Di Kampung Ji’ranah ini, ada beberapa tempat ziarah lainnya seperti sumur yang dikenal dengan Bir Thaflah. Menurut sejarah, air muncul dari sumur ini ketika Rasulullah SAW kehabisan persediaan air, namun tidak ditemukan air. Nabi Muhammad SAW memukulkan tongkatnya. Berkat kekuasaan Allah SWT, terpancarlah air.
Namun, saya dan teman-teman tidak ke tempat sumur itu berada karena sudah terlalu malam. Lagipula, tujuan kami memang bukan berwisata atau berziarah ke sumur tersebut, melainkan melakukan miqat dari Masjid Ji'ranah. Selepas berihram, mobil mengangkut kami menuju Masjidil Haram.