Selasa 18 Jul 2017 15:30 WIB

Menelusuri Jalur Haji Mesir

Peta Kairo, Mesir,
Foto: World guides
Peta Kairo, Mesir,

IHRAM.CO.ID,  JAKARTA -- Jalur haji Mesir, misalnya, bertahan selama berabad-abad. Pergerakan manusia dalam jumlah besar dari wilayah Mesir menuju Tanah Suci membawa kemakmuran bagi warga di sepan jang jalur itu. Kerinduan besar untuk berziarah ke Baitullah juga memicu pembukaan jalur-ja lur kecil yang bermuara di jalur utama perjalan an haji tersebut.

Untuk membantu dan memudahkan perja lanan para jamaah, para pemimpin dan harta wan menyediakan karavan, jalur pasok air, bah kan menyediakan perlindungan di sepanjang jalur menuju Makkah dan Madinah. Orang-orang Muslim yang tinggal di sepanjang jalur itu tak segan membantu saudara-saudara se iman mereka yang hendak menunaikan pang gilan Allah untuk berhaji.

Masjid dan desa pun bermunculan di jalur antara Afrika Utara hingga Semenanjung Iberia. Maka, di balik makna spi ritualitas haji, ada fenomena sosial, budaya, dan komersial di sana.

Keberadaan rute haji juga turut memicu perkembangan sains, perdagangan, politik, dan agama. Perdagangan tercipta dengan muncul nya sistem karavan dan transportasi laut. Tak semua jamaah juga berjalan dengan tangan ko song. Sebagian mereka membayar jasa penun juk jalan karena tak paham membaca kompas.

Tak sedikit pula yang membayar jasa juru ang kut barang dan informan perjalanan. De ngan niat membantu tamu Allah, perkembang an sains, seperti matematika, optik, astronomi, na vigasi, geografi, pendidikan, kedokteran, ke uangan, transformasi, bahkan politik, juga ikut mendukung.

Ketika kepemimpinan sentral Dinasti Umay yah melemah dan muncul ketakutan di kalangan pejalan jalur darat akan kejahatan, jalur laut menjadi alternatif. Jalur laut, terutama untuk haji, mencapai puncaknya di akhir era Dinasti Mamluk sekitat abad 14 dan 15. Catatan Ibnu Fadlallah menye but, jamaah haji asal Mesir pada abad 12 ber layar dari Kairo dan kamp Al Birkah melintasi Terusan Suez lalu melewati Nakhal, Aiyla, Aqaba Besar, Laut Merah, dan turun di daerah pesisir Saudi.

Dari sana, jamaah haji berjalan kaki ber iringan dari utara ke selatan, dari Haqel ke Mi dian. Selanjutnya, mereka melewati Gua Syu'aib, tempat Nabi Musa AS menolong anakanak perempuan Nabi Syu'aib yang hendak mengambil air untuk ternak mereka.

Perjalanan belum usai. Calon jamaah haji masih harus melanjutkan perjalanan melewati Uyoun al-Qassan, al-Mwaileh, al-Azlam (al- Aznam), al-Wajh yang airnya sangat bagus, lalu Akra yang susah air, al-Hora yang merupakan daerah pesisir Laut Merah dengan airnya payau sehingga sulit diminum.

Dari sana, calon jamaah haji terus berjalan ke Nabt, Yanbu, al-Dahna, Bader, Rabigh, dan al-Juhfa. Di al-Juhfa inilah para calon jamaah haji itu mengambil miqat. Setelah mengambil mi qat dan berpakaian ihram, mereka masih harus berjalan ke Khulais, Baten, melintasi Sumur Asfan, lalu sampailah di Kota Suci Mak kah. Perjalanan dari Mesir ke Makkah mema kan waktu puluhan hari.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement