Selasa 18 Jul 2017 16:30 WIB

Mereka Pun Memilih Berlayar

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko
Calon jamaah haji bersiap naik kapal laut di Tanjung Priok, menuju Tanah Suci pada tahun 1938.
Foto: Gahetna.nl
Calon jamaah haji bersiap naik kapal laut di Tanjung Priok, menuju Tanah Suci pada tahun 1938.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Perjalanan para tamu Allah dari Mesir ke Tanah Suci tak selamanya melalui jalur darat. Pada suatu masa ketika Terusan Suez dibuka dan terjadinya evolusi kapal, terjadi pula pergeseran pola perjalanan para calon jamaah haji dari jalur darat ke jalur laut.

Alhasil, jumlah kapal yang melintasi Terusan Suez kian bertambah. Para pelaut pun kemudian melihat terbentangnya ladang bisnis baru, yakni mengangkut jamaah haji ke Tanah Suci.

Seorang Inggris, Richard Burton, yang sempat tinggal di al-Mwaileh pada 1878, menyaksikan betapa jumlah calon jamaah haji yang menggunakan jalur darat merosot tajam. Dalam kurun waktu sekitar 25 tahun, jumlah jamaah yang menggunakan jalur darat berkurang dari ribuan orang menjadi sekitar 800 orang saja.

"Saat ini (tahun 1878), hanya 80 calon jamaah haji yang melintas di al-Mwaileh dan bawaan mereka diangkut oleh para tentara. Dulu mereka dipandu satu-dua orang pasha, tapi kini mereka dipandu seseorang dengan sebutan bey,'' tulis Burton dalam sebuah catatannya.

Bagi mereka yang kaya, menyewa kabin privat di kapal menjadi pilihan yang nyaman daripada menempuh perjalanan darat. Sementara, bagi calon jamaah haji dengan kemampuan ekonomi pas-pasan, pilihannya adalah menyusuri Sungai Nil dengan rakit.

Mohammad Pasha Sadiq membenarkan catatan Burton tentang terus berkurangnya calon jamaah haji yang menempuh jalur darat. Menurut Sadiq, para calon jamaah haji menempuh jalur darat hanya sampai al-Mahnal. Selanjutnya, mereka pun memilih berlayar menuju Tanah Suci.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement