Senin 24 Sep 2018 13:35 WIB

Pelayanan Kesehatan Haji Diklaim Meningkat

Jumlah kematian jamaah dijadikan salah satu patokan kesimpulan tersebut.

 Sekretaris Jenderal Kementerian  Kesehatan Untung Suseno
Foto: Republika/Neni Ridarineni
Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Untung Suseno

Laporan Wartawan Republika.co.id, Fitriyan Zamzami dari Madinah, Arab Saudi

IHRAM.CO.ID, MADINAH -- Kementerian Kesehatan mengklaim pelayanan kesehatan jamaah haji tahun ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Jumlah kematian jamaah dijadikan salah satu patokan kesimpulan tersebut.

Baca Juga

Menurut Sekjen Kementerian Kesehatan Untung Suseno angka kematian tahun ini hampir sama dengan dua tahun lalu. Kendati demikian, pada 2016 jumlah jamaahnya sekitar 160 ribu orang sedangkan saat ini lebih dari 200 ribu jamaah. “Alhamdulillah hasil evaluasi memang menunjukkan angka-angka yang lumayan baik. Jadi kalau kita lihat dari jumlah kematian saja. Kalau dihitung specific death rate-nya malah ini yang paling rendah,” kata Untung di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah, Ahad (23/9) malam.

Menurut catatan Siskohat Dirjen PHU Kementeria Agama, pada 2016 jumlah jamaah wafat sebanyak 342 orang. Jumlah itu setara dengan 0,20 persen dri total 168 jamaah.

Sementara pada 2017, yang wafat sebanyak 657 jamaah, atau 0,32 persen dari total 203.065 jamaah. Tahun ini, hingga Senin (24/9) pagi waktu setempat sebanyak 381 jamaah wafat. Jumlah itu setara 0,18 persen dari jumlah total 203.351 jamaah yang berangkat.

Merujuk prosentase tersebut, kematian jamaah tahun ini secara proporsional memang masih lebih sedikit ketimbang dua tahun lalu. Dari total angka tahun ini, jamaah yang wafat di Makkah mencapai 263 orang, di Madinah 73 orang, di Arafah delapan orang, dan di Mina 24.

Penurunan signifikan angka kematian di bandingkan tahun lalu nampak di Arafah. Pada 2017, total jamaah wafat di Arafah mencapai 20 orang. “Jadi kita sudah tahu bahwa perbaikan sistem dan perbaikan sarana prasarana berhasil menurunkan angka kematian,” kata Untung.

Penyebab kematian yang paling tinggi tahun ini, menurut Untung, bukan penyakit jantung, tapi paru-paru. Hal ini menurutnya juga menunjukkan bahwa pemerintah berhasil menjalankan pengawasan istita’ah dari tempat jamaah tinggal di daerah masing-masing sampai ke embarkasi, kemudian Arab Saudi dan kembali lagi ke debarkasi.

“Jadi benar-benar dijaga jamaah-jamaah semua yang sudah kita tentukan berisiko tinggi. Kita kawal dengan pembinaan kesehatan yang baik dan cepat tanggap,” kata dia.

Ia menambahkan, Tim Gerak Cepat (TGC) juga bergerak tidak seperti tahun lalu. Saat ini, saat menemukan jamaah dalam keadaan tidak sadar, petugas kesehatan langsung memberikan infus, tanpa menunggu transportasi lebih dulu. Jamaah sakit langsung ditangani di tempat dengan rejimen yang lebih baik.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement