Haji Sunan Bonang, Sunan Giri, Hingga Hamazah Fansuri

Selasa , 02 Jun 2020, 15:38 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Tawaf bersama rembulan di Ka
Tawaf bersama rembulan di Ka

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof DR Abdul Hadi, Penyair Sufi dan Guru Besar Falsafah Islam Universutas Paramadina*.

 

Terkait

Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh mereka yang mampu secara finansial.  Oleh karena iyu tidak dapat dielakkan bahwa ibadah haji merupakan yang penting dalam kehidupan beragama orang-orang Islam. Terutama bagi yang telah menjalani, ibadah haji memberikan pengalaman religius dan spiritual yang tak terlupakan.

Suatu pengalaman indah yang tidak diperoleh dari ibadah-ibadah wajib yang lain. Tak heran jika banyak buku ditulis tentang mengalaman naik haji. Dalam sastra Indonesia misalnya ada dua buku yang masyhur yaitu Di Bawah Lindungan Ka`bah karangan Hamka dan Orang Jawa Naik Haji karangan Danarto.

Buku yang masyhur tentang haji pada abad ke-20 ialah Haji karangan sosiolog terkemuka Ali Syariati. Dalam bukunya itu dipaparkan bahwa naik haji bukan merupakan pengalaman yang indah, tetapi penuh dengan makna baik religius maupun spiritual maupun makna sosologis.




Begitulah dari abad ke abad, banyak sekali pemaparan tentang indahnya pengalaman menunaikan ibadah haji. Kritikus sastra Arab abad ke-12 M, bdul Qahir al-Jurjani dalam kitabnya Asrar al-Balaghah mengutip sajak penyair abad ke11 M al-Mufarriq. Keindahan pemandangan kota Mekkah pada musim haji dilukiskan dalam sebaris kata-kata yang elok: “Lembah-lembah dibanjiri/ punggung-punggung unta.”  

TAWAF BERSAMA REMBULAN - Republika Penerbit

Memang pada masa itu kendaraan utama yang digunakan orang untuk naik haji ialah unta dan kapal laut. Misalnya seperti dilukiskan dalam Sejarah Melayu pada abad ke-15 dan 16 M.  Dalam kitab tersebut dipaparkan dua orang pemuka agama dari tanah Jawa yang singgah di pelabuhan Malaka dalam perjalanannya menunaikan ibadah haji di Mekkah.

Dua pemuka agama itu adalah Sunan Giri dan Sunan Bonang. Dari Malaka mereka melanjutkan pelayaran ke Samudra Pasai. Di Samudra Pasai mereka tinggal lama dan memanfaatkan masa singgahmua untuk memperdalam ajaran agama pada guru-guru terkemuka.  

Dari Samudra Pasai mereka berlayar ke India atau Maladewa. Dua route pelayaran tinggal dipilih: menuju pelabuhan Hormuz di Teluk Persia atau pelabuhan Aden di Yaman, yang merupakan tempat konsentrasi penganut mazab Syafii. Tidak heran apabila duta Timur Lenk untuk India pada awal abad ke-15 M mencatat dalam kitab sejarahnya bahwa pada awal abad ke-15 M banyak sekali kapal-kapal dari pulau Jawa dan Sumatra berlabih di Hormus, Iran sekarang ini.

Dari Aden dan Hormuz ini orang-orang yang naik haji berangkat ke Mekkah melalui jalan darat. Adapun yang berlabuh di pelabuhan Hormuz meneruskan perjalanan darat menuju Baghdad.

Dalam Hikayat Hang Tuah dipaprkan orang-orang Melayu banyak yang naik haji dengan terlebih dahulu berkumpul di kota Baghdad. Yaitu di Mesjid Syekh Abdul Qadir Jailani yang merupakan markas Tariqat Qadiriyah. Di kota ini, sebelum menuju Mekkah, Syekh Hamzah Fansuri dibaiat sebagai mursyid tariqat Qadiriyah di Nusantara. Setelah menunaikan ibadah haji ia melanjutkan perjalanan ke Yerusalem atau al-Quds. Seperti ditulis dalam syair tasawufnya:


                       

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah

                       

Mencari Tuhan di Baitil Ka’bah

                       

Di Barus ke Quds terlalu payah

                       

Akhirnya jumpa dalam rumah