Nasib Pedagang Suvenir Haji Tanah Abang, Hanya Bisa Pasrah

Rabu , 03 Jun 2020, 18:33 WIB Reporter :Meiliza Laveda/ Redaktur : Ani Nursalikah
Nasib Pedagang Suvenir Haji Tanah Abang, Hanya Bisa Pasrah. Salah satu toko oleh-oleh haji di Tanah Abang, Jakarta Pusat yang kini sepi pembeli akibat pandemi Covid-19, Rabu (3/6).
Nasib Pedagang Suvenir Haji Tanah Abang, Hanya Bisa Pasrah. Salah satu toko oleh-oleh haji di Tanah Abang, Jakarta Pusat yang kini sepi pembeli akibat pandemi Covid-19, Rabu (3/6).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Siang ini kawasan Pusat Perbelanjaan Tanah Abang masih terlihat sepi, Rabu (3/6). Jalanan dipadati oleh kendaraan dan orang yang berlalu lalang. 

 

Terkait

Di bawah terik panas matahari, Deden Najri (50 tahun) menunggu pelanggan di dalam toko kecilnya. Kemarin, pemerintah telah menetapkan pemberangkatan haji tahun ini ditiadakan. Bagi Deden seorang penjual suvenir haji, ia bisa pasrah terkait keputusan tersebut. 

Baca Juga

Deden mengaku, pendapatannya menurun drastis hingga 80 persen. Ia yang biasanya mampu meraup hingga Rp 5 juta kini menjadi Rp 700 ribu per hari. Walaupun di tengah pandemi, Deden tetap harus membuka toko kecilnya.

Ini karena sudah menjadi kewajibannya sebagai kepala keluarga mencari nafkah untuk anak dan istri. Menurutnya, wabah Covid-19 juga berdampak pada semua sektor, tidak hanya sektor ekonomi.

“Tetap buka Insya Allah. Kan kewajiban juga buat cari uang istri dan anak. Nggak bisa tutup, banyak keperluan buat makan ini itu,” katanya kepada Republika.co.id, Rabu (3/6).

Ia mulai membuka warungnya di pinggir jalan mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 19.30 WIB. Deden menyebut wabah Covid-19 memang perlu diwaspadai. Namun, ini harus diseimbangkan dengan keperluan ibadah. Jangan sampai sektor ekonomi hancur dan orang yang mau beribadah terhambat. 

Pemerintah perlu mencari solusi seimbang agar semua pihak merasa enak dalam kondisi sekarang. Penghasilan sehari-hari Deden hanya dari berjualan suvenir haji.

Untuk beberapa barang dagangannya seperti kurma sekarang dibatasi stoknya. Ia mengaku tidak bisa stok banyak karena kondisi tidak mendukung. Ia tetap memperhatikan masa kedaluwarsa. Jika tidak layak dijual, ia terpaksa buang.

Deden juga berharap pemerintah memperhatikan nasib pedagang kecil sepertinya. “Perhatikan nasib pedagang kecil seperti kami. Cari solusi yang lebih baik,” ujarnya.

Pemilik toko cenderamata haji, yang terletak di pinggir Jalan Fachrudin, Karsin (52), setuju dengan keputusan pemerintah membatalkan haji. Ia menilai, keputusan tersebut sudah tepat. Menurutnya, wabah Covid-19 tidak bisa disepelekan. Karena jika ibadah haji tetap berlangsung, akan menyebabkan kerumunan orang dalam satu tempat.

photo

Salah satu toko oleh-oleh haji di Tanah Abang, Jakarta Pusat yang kini sepi pembeli akibat pandemi Covid-19, Rabu (3/6). - (Republika/Meiliza Laveda)

Walaupun keputusan tersebut berdampak pada penurunan pendapatannya, ia tidak menerimanya. Terjadi penurunan pendapatan sudah menjadi konsekuensi pedagang dan harus diterima. Ia menjelaskan, bisa sampai setengah pemasukannya turun dari biasanya. Namun, karena Karsin juga menjual produk kebutuhan sehari-hari seperti madu dan minyak zaitun, itu cukup untuk kebutuhannya. 

“Untuk sehari-hari masih cukup. Karena kan produk yang saya jual termasuk keperluan sehari-hari juga. Ada madu, minyak zaitun, dan sekarang banyak orang yang makan kurma juga,” ujarnya. 

Ia berharap wabah Covid-19 segera usai. Jadi, perputaran ekonomi tetap berlangsung normal seperti biasanya.

Berjarak beberapa langkah dari toko Karsin, masih di pinggir Jalan Fachrudin, terlihat sebuah toko kecil oleh-oleh perlengkapan haji. Kedua penjual sedang melayani seorang pembeli. Namun, setelah pembeli pergi, nampaknya belum ada lagi pembeli yang datang. 

Sadewa Yunianta (52) bersama saudaranya sedang berteduh di dalam tokonya menunggu pembeli yang datang. Ia mengungkapkan, terkait keputusan pemerintah, ia kurang setuju.

“Kurang setuju haji dibatalin tahun ini. Apa nggak ada opsi lain,” katanya. 

Sebagai pedagang yang menangguk untung saat musim haji sangat merasakan dampak. Penurunan pendapatannya sangat jauh. Bisa mencapai setengah lebih daripada biasanya.

Meskipun ada bantuan dari pemerintah, ini tidak bisa menutupi kebutuhan sehari-hari. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ia harus menghemat. Terkadang, ia terpaksa berutang. 

“Untuk menyiasatinya harus benar-benar irit. Agak keteteran, gali lubang tutup lubang,” ujarnya.

Biasanya Sadewa mulai membuka tokonya pukul 08.00 WIB hingga 21.00 WIB. Namun sekarang dibatasi, mulai pukul 10.00 WIB hingga 17.00 WIB. Jika ada barang dagangan seperti kurma dan cokelat yang sudah kedaluwarsa, itu sudah menjadi risikonya. Tapi ia yakin kurma masih ada yang tahan lama. Namun, cokelat tidak tahan lama.

“Lebih baik ditimbang lagi keputusan pemerintah, meskipun masih ada Covid-19 yang belum tuntas. Tapi sekarang isunya juga kemana-man. Jadi masyarakat bawah seharusnya dikasih kepastian yang lebih baik,” katanya.

Pria kelahiran 1968 ini berharap kehidupan normal bisa kembali dan wabah Covid-19 segera usai. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini