Kadin Arab Saudi Desak Akhiri Bisnis dengan Perusahaan Turki

Kamis , 15 Oct 2020, 12:05 WIB Redaktur : Ani Nursalikah
Kadin Arab Saudi Desak Akhiri Bisnis dengan Perusahaan Turki. Burj Al-Mamlakah, landmark Riyadh lambang kemegahan kota.
Kadin Arab Saudi Desak Akhiri Bisnis dengan Perusahaan Turki. Burj Al-Mamlakah, landmark Riyadh lambang kemegahan kota.

IHRAM.CO.ID, RIYADH - Kepala Dewan Kamar Dagang Saudi, Ajlan Al-Ajlan menyerukan kepada semua warga Saudi berhenti berbisnis dengan perusahaan Turki di Kerajaan, Rabu (14/10). Dia bahkan mengulangi seruannya untuk memboikot semua yang terkait dengan Turki.

 

Terkait

Pada 3 Oktober, Al-Ajlan menyerukan boikot semua hal terkait Turki, termasuk impor, investasi, dan pariwisata. Al-Ajlan mengatakan itu adalah tanggung jawab setiap warga Arab Saudi untuk bertindak.

Baca Juga

"Saya mengatakannya dengan pasti dan jelas: tanpa investasi, tanpa impor, tanpa pariwisata. Kami, sebagai warga negara dan pengusaha, tidak akan berurusan dengan semua hal terkait Turki. Bahkan perusahaan Turki yang beroperasi di Kerajaan, saya menyerukan untuk tidak berurusan dengan mereka," kata Al-Ajlan dalam tweet, dilansir Saudi Gazette, Rabu.

Al-Aljan mengatakan itu adalah respons paling minimal yang bisa dilakukan orang Saudi di tengah permusuhan Turki yang terus berlanjut. "Memboikot semua hal tentang Turki, baik pada tingkat impor, investasi atau pariwisata, adalah tanggung jawab setiap warga Saudi - pedagang dan konsumen - sebagai tanggapan atas permusuhan berkelanjutan dari pemerintah Turki terhadap kepemimpinan kami, negara kami, dan warga kami," kata Al-Ajlan.

Lira Turki telah menukik turun ke rekor terendah pekan lalu di lebih dari 7,7 versus dolar AS. Lira adalah salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini, turun 22 persen, menurut Reuters.

Dampak virus corona dikombinasikan dengan krisis mata uang yang dimulai pada 2018 telah menyebabkan resesi tajam, dengan cadangan devisa bruto di bank sentral turun hampir setengahnya tahun ini.

Seruan boikot datang setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan awal bulan ini bahwa beberapa negara di Teluk Arab menargetkan Turki, dan mempertanyakan keberadaan negara-negara tersebut.

“Tidak boleh dilupakan negara-negara tersebut tidak ada kemarin, dan mungkin tidak akan ada besok, namun kami akan terus mengibarkan bendera kami di wilayah ini selamanya,” kata Erdogan pada 1 Oktober dalam pidato di Majelis Umum Turki.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini