Pasutri Nekad Bermotor 13 Ribu Km demi Ikut MTQ di Padang

Jumat , 20 Nov 2020, 04:55 WIB Redaktur : Ani Nursalikah
Kafilah Kalimantan Utara Nining R Rusdin Wakiden (29 tahun) mengendarai motor dari Kota Palu menuju Kota Padang. Ia melakukan perjalanan bersama suaminya Hasan CL Bunyu (42).
Kafilah Kalimantan Utara Nining R Rusdin Wakiden (29 tahun) mengendarai motor dari Kota Palu menuju Kota Padang. Ia melakukan perjalanan bersama suaminya Hasan CL Bunyu (42).

Awalnya ia sempat tidak mau berangkat karena khawatir Covid-19. Ia pun mencoba mencari rute kapal ke Belawan, Medan, kemudian melanjutkan perjalanan ke Padang.

 

Terkait

"Namun, ternyata tidak ada jadwal, akhirnya ada rombongan moge lewat, eh kenapa kita tidak coba naik motor," katanya.

Tentu saja keberangkatan ke Padang menggunakan sepeda motor bebek mendapat penolakan mulai dari petugas setempat hingga keluarga. Namun, Nining dan Hasan tetap berangkat. Dengan berbekal bismillah, ia jalan ke Toli-Toli menyeberang ke Kalimantan tepatnya Kalimantan Utara.

Beberapa kali di jalan ia ditelepon diminta membatalkan perjalanan, namun Hasan tetap lanjut. Usai mengurus izin ia melanjutkan perjalanan, menuju ke Kalimantan Tengah terus menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk menyeberang ke Pulau Jawa tepatnya Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Sempat tertahan dua malam di Banjarmasin karena salah jadwal kapal menyeberang ke Surabaya, Hasan sempat khawatir karena waktu makin singkat. Tepat 8 November 2020 akhirnya ia sampai di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta.

Sesampai di Yogyakarta, pasangan itu mengikuti tes usap di fasilitas kesehatan setempat sebagai salah satu syarat peserta MTQ nasional oleh panitia di Sumatra Barat. Hasan dan Nining menyusur Jawa menuju Pelabuhan Merak Banten siang dan malam karena mematok target harus sampai di Padang paling lambat 14 November 2020.

Mereka hanya beristirahat dua jam saja selepas subuh dan setelah itu kembali melanjutkan perjalanan. Karena belum tahu rute dalam perjalanan mereka mengandalkan aplikasi Google Maps dan bertanya kepada penduduk.

Hasan pun memilih mengendarai motor dengan kecepatan maksimal 60 kilometer per jam karena khawatir jika terlalu cepat saat tersasar akan semakin jauh dan mencegah kecelakaan. Untuk beristirahat mereka singgah di SPBU termasuk mandi. Sedangkan untuk makan di Pulau Jawa ia mencari warteg dan hanya membeli satu bungkus nasi dengan dua lauk demi menghemat biaya.