Xi Jinping: Separatisme Taiwan Hambatan Reunifikasi

Senin , 11 Oct 2021, 23:57 WIB Reporter :Kamran Dikarma/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Presiden China Xi Jinping, menyatakan menyatakan tugas reunifikasi harus dipenuhi
Presiden China Xi Jinping, menyatakan menyatakan tugas reunifikasi harus dipenuhi

IHRAM.CO.ID, BEIJING – Presiden China Xi Jinping berjanji mewujudkan reunifikasi dengan Taiwan. Namun dia tidak menyinggung apakah hal itu bakal dilakukan dengan cara damai atau menggunakan kekuatan.

 

Terkait

Saat berbicara di Beijing's Great Hall of the People, Xi mengatakan rakyat China memiliki “tradisi mulia” dalam menentang separatisme. “Separatisme kemerdekaan Taiwan adalah hambatan terbesar untuk mencapai penyatuan kembali tanah air, dan bahaya tersembunyi paling serius bagi peremajaan nasional,” ujarnya, Sabtu (9/10).

Baca Juga

Xi mengatakan, tugas historis reunifikasi China sebagai tanah air harus dipenuhi. “Ini pasti akan dipenuhi,” ucapnya.

Sebelumnya Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan, pihaknya tak mencari konfrontasi militer. Tapi Taiwan siap melakukan apa pun untuk mempertahankan kemerdekaannya. Tsai mengungkapkan, Taiwan berharap dapat hidup berdampingan secara damai, stabil, dan dapat diprediksi dengan tetangganya. "Tapi Taiwan juga akan melakukan apa pun untuk mempertahankan kebebasan dan cara hidup demokratisnya," ujarnya.

Dia menekankan, kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik membutuhkan lingkungan yang damai, stabil, dan transparan. "Namun kawasan ini juga membawa ketegangan baru dan kontradiksi sistemik yang dapat berdampak buruk pada keamanan internasional serta ekonomi global jika tidak ditangani dengan hati-hati," ucapnya. 

Tsai menekankan, Taiwan akan bekerja sama dengan negara-negara regional lainnya guna memastikan stabilitas. “Taiwan berkomitmen penuh untuk berkolaborasi dengan pemain regional untuk mencegah konflik bersenjata di China Timur, Laut China Selatan, dan di Selat Taiwan," ujarnya. 

Sebelumnya Taiwan mengatakan ia mewaspadai aktivitas militer China yang berlebihan. Hal itu disampaikan setelah Beijing mengirim 56 pesawat ke zona pertahanan udaranya pada Senin (4/10). Itu merupakan jumlah penerobosan terbesar yang pernah dilaporkan.

“Taiwan harus waspada. China semakin di atas. Dunia juga telah melihat pelanggaran berulang China terhadap perdamaian regional dan tekanan terhadap Taiwan,” kata Perdana Menteri Taiwan Su Tseng-chang pada Selasa (5/10).

Dia mengatakan, Taiwan perlu memperkuat dirinya sendiri dan bersatu. Hanya dengan begitu negara-negara yang ingin mencaplok Taiwan tidak berani dengan mudah menggunakan kekuatan. Hanya ketika kita membantu diri kita sendiri, orang lain dapat membantu kita,” ujar Su.

Sepanjang akhir pekan lalu, China menerbangkan pesawat tempurnya ke zona pertahanan udara Taiwan. Menurut Taiwan, terdapat 148 pesawat tempur China yang memasuki zona pertahanan udaranya di bagian selatan dan barat daya.

China diketahui mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Namun Taipei menolak klaim itu dan menyebut bahwa mereka merupakan negara merdeka.

Beijing telah berulang kali mengancam akan mengambil kendali Taiwan melalui intervensi militer. Meski terancam, Taiwan tetap berpegang teguh pada pendiriannya dan siap menghadapi ancaman agresi Negeri Tirai Bambu.   

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini