Suriah Teken MoU dengan UEA Bangun PLTS

Jumat , 12 Nov 2021, 11:56 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Esthi Maharani
PLTS (ilustrasi)
PLTS (ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, DAMASKUS -- Suriah telah menandatangani kesepakatan dengan perusahaan Uni Emirat Arab (UEA) untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di dekat Damaskus. Kerja sama ini merupakan tanda hubungan ekonomi yang berkembang antara kedua negara.

 

Terkait

Kesepakatan itu datang dua hari setelah Menteri Luar Negeri UEA Abdullah bin Zayed Al-Nahyan bertemu Presiden Bashar al-Assad di Damaskus dalam kunjungan pertama sejak dimulainya perang Suriah.

Baca Juga

Kunjungan itu secara luas dilihat sebagai tanda upaya regional untuk mengakhiri isolasi diplomatik al-Assad, ketika Suriah bergulat dengan krisis ekonomi yang meningkat yang disebabkan oleh konflik bertahun-tahun dan diperparah oleh sanksi Barat.

“Kementerian kelistrikan dan konsorsium perusahaan Emirat telah menandatangani perjanjian kerja sama untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas 300 megawatt di pinggiran kota Damaskus," kata kantor berita resmi SANA, dilansir dari Alarabiya, Jumat (12/11).

Pemerintah Suriah awalnya menyetujui proyek tersebut bulan lalu, dengan Menteri Ekonomi Samer al-Khalil menyebutnya sebagai tanda positif untuk investasi masa depan di Suriah. Pada saat itu, kementerian ekonomi UEA mengatakan pihaknya setuju dengan Suriah pada rencana masa depan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan mengeksplorasi sektor-sektor baru.

UEA memutuskan hubungan dengan pemerintah yang didukung Iran di Damaskus pada Februari 2012, hampir setahun setelah dimulainya perang Suriah. Konflik 11 tahun meletus dengan protes nasional menuntut perubahan rezim yang disambut dengan tindakan keras pemerintah yang brutal.

Itu meningkat menjadi perang yang menghancurkan yang menarik sejumlah kekuatan regional dan internasional, dan menewaskan hampir setengah juta orang. Pada Desember 2018 UEA membuka kembali kedutaannya di Damaskus , dan pada Maret tahun ini menyerukan Suriah untuk kembali ke Liga Arab.

Perang di Suriah telah merusak jaringan listrik negara itu, menyebabkan pemadaman listrik sepanjang waktu yang sekarang diperparah dengan kekurangan bahan bakar. Kerugian yang diderita oleh sektor energi sejak dimulainya perang berjumlah sekitar "100 miliar dolar dalam bentuk kerusakan langsung dan tidak langsung," kata menteri ekonomi Suriah bulan lalu.

Bulan lalu juga, kementerian kelistrikan menandatangani kontrak 115 juta USD dengan sebuah perusahaan Iran untuk merehabilitasi pembangkit listrik di provinsi tengah negara yang dilanda perang itu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini