Teknologi AI Hidupkan Kembali Suara Laleh Bakhtiar

Selasa , 16 Nov 2021, 01:20 WIB Reporter :Meiliza Laveda/ Redaktur : Esthi Maharani
Rekaman suara
Rekaman suara

IHRAM.CO.ID, CHICAGO – Suara wanita Amerika pertama yang menerjemahkan Alquran dan meninggal tahun lalu Laleh Bakhtiar dihidupkan kembali melalui proyek kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Putri Bakhtiar, Iran Davar Ardalan, mengatakan kecerdasan buatan jarang menyoroti kelompok minoritas.

 

Terkait

Pendiri proyek Intelligent Voices of Wisdom mengatakan umat Islam sering dimusuhi dalam dunia teknologi dan informasi. “Karena bisnis berbasis kecerdasan buatan telah berkembang pesat, banyak sistem kecerdasan buatan tidak memiliki kecerdasan budaya dasar,” kata Ardalan.

Baca Juga

Bakhtiar merupakan kandidat sempurna untuk pendekatan Intelligent Voices of Wisdom (IVOW). Dia merupakan sosok dibalik isu tasawuf hingga psikologi Alquran. Lahir di Iran, ia dibesarkan di Los Angeles dan Washington sebelum kembali ke Teheran di mana ia belajar dengan filsuf Seyyed Hossein Nasr. Setelah mengambil gelar doktor di New Mexico, Bakhtiar menghabiskan sebagian besar sisa hidupnya di Chicago.

Selama perjuangan panjangnya melawan sindrom myelodysplastic, dia mulai menggunakan Garage Band untuk merekam pemikiran dan idenya. IVOW sedang mengembangkan versi modifikasi dari AI yang digerakkan oleh suara Asisten Google untuk memungkinkan siswa tidak hanya mendengarkan tetapi juga mengajukan pertanyaan dan melakukan percakapan virtual dengan Bakhtiar.

Dilansir Religion News, Senin (15/11), salah seorang anak Bakhtiar Mani Helene Ardalan Farhadi mengatakan Bakhtiar menyimpan surat-surat selama lebih dari 50 tahun, dari saudara dan orang tuanya. Lebih dari delapan jilid mimpinya, catatan kuliah, surat dan potongan sejarah keluarganya diterbitkan sebelum kematiannya. Secara total, Bakhtiar menerjemahkan lebih dari 150 teks.

“Ini sempurna untuk kecerdasan buatan karena AI membutuhkan banyak data,” ujar Ardalan. Biaya untuk mendigitalkan ribuan jurnal, catatan kuliah, foto, dan dokumen lainnya sangat tinggi. Dia berharap dapat mengumpulkan dana atau menerima sumbangan untuk memindai arsip pribadi keluarga.

Selain itu, Ardalan berharap proyek ini akan bermanfaat bagi semua Muslim. Pada tahun 2016, Bakhtiar menulis sebuah artikel yang diterbitkan oleh Religion News Service. Dia menyerukan adanya masjid keliling untuk membantu membuat pengetahuan Islam dan prinsip-prinsip penyelidikan Islam lebih tersedia.

“Kita perlu membangun menara seluler untuk menjangkau anak muda dengan segala cara yang mereka gunakan untuk mendapat informasi,” tulis dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini