Realitas Sikap Jamaah Haji Terhadap yang Sakit

Senin , 15 Nov 2021, 23:55 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Realitas Sikap Jamaah Haji Terhadap yang Sakit. Foto: ilustrasi Jamaah Haji Nigeria
Realitas Sikap Jamaah Haji Terhadap yang Sakit. Foto: ilustrasi Jamaah Haji Nigeria

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Kasus penolakan terhadap nenek yang mengalami demensia merupakan satu atau dua contoh kasus yang pernah terjadi dalam penyelenggaraan ibadah haji. Beberapa kelompok pernah mengalami ujian yang sama. 

 

Terkait

Kelompok-kelompok seperti ini kata M Imran S Hamdani dapat dikatakan gagal dalam membentuk identitas sosial kolektif yang seharusnya menumbuhkan rasa sama-sama susah dan sama-sama senang. Hal ini secara tersirat dapat terlihat pada sikap jamaah yang memiliki pendapat 'bahwa saya adalah bagian dari kerepotan ini'.

Baca Juga

Kehadiran orang yang menderita suatu penyakit dianggap mengganggu aktivitas dan kekukuhan ibadah orang-orang di sekelilingnya.

"Identitas sosial kolektif seharusnya melahirkan identitas sosial yang setara dan dibangun atas perbedaan karakter individu," kata M Imran S Hamdani dalam bukunya Ibadah Haji di Tengah Pandemi Covid-19 Penyelenggaraan Berbasis Resiko.

Menurutnya, identitas kolektif yang baik dapat dilihat dari partisipasi dan kontribusi positif setiap orang dalam kelompok. Semakin sering berpartisipasi dan semakin positif kontribusi seseorang dalam kelompok maka semakin kuat keyakinan bahwa dirinya bermakna dalam kelompok tersebut. 

"Bisa dikatakan jika ibadah haji merupakan ibadah vertikal yang yaitu hubungan manusia dengan Allah Ta'ala. Akan tetapi, perjalanan ibadah haji itu sendiri juga merupakan ibadah sosial horizontal, di mana terdapat hubungan manusia dengan sesama manusia," katanya.

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang tanda haji mabrur dan beliau menjawab.

"Memberi makan dan berkata yang baik."

Imran S Hamdani memastikan bahwa hadits dari Jabir radhiallahu Alanhu diriwayatkan oleh Al Hakim dengan sanadnya hasan. Inti dari ibadah haji adalah menumbuhkan karakter kesalehan sosial seseorang.

"Kisah nenek di atas adalah penolakan sosial terhadap kasus penyakit yang tidak menular dan telah menggambarkan bagaimana kasus kesehatan individu yang berubah menjadi kasus kesehatan masyarakat," katanya.

Bagaimana jika itu kasus penyakit yang menular, seperti  Covid-19 apakah ada yang rela berbagi kamar dengan orang ter konfirmasi positif Covid-19. Orang yang terkonfirmasi Covid-19 tidak hanya menjadi masalah dalam satu kamar tetapi akan di bergulir menjadi masalah yang lebih besar.

"Dengan demikian dapat dikatakan bahwa satu orang dengan penyakit menular berpotensi menjadi masalah kesehatan global," katanya.

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini