Mesir Izinkan Sholat Jenazah di Masjid Besar

Selasa , 07 Dec 2021, 12:44 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Esthi Maharani
Masjid Nafisa di Kairo, Mesir.
Masjid Nafisa di Kairo, Mesir.

IHRAM.CO.ID, KAIRO -- Otoritas Mesir telah memutuskan mengizinkan pelaksanaan sholat jenazah di dalam masjid-masjid besar, yang berwenang mengadakan sholat Jumat. Pelaksanaan sholat jenazah dilakukan di bawah tindakan pencegahan anti-Covid-19 untuk pertama kalinya, sejak menyebarnya pandemi awal tahun lalu.

 

Terkait

Keputusan itu diumumkan pemerintah dalam rapat Komite Tertinggi Penanganan Krisis Virus Corona yang dipimpin Perdana Menteri Mostafa Mabdouly, Senin (6/12). Keputusan itu dikeluarkan sesuai dengan permintaan Kementerian Wakaf.

Baca Juga

Dilansir di Ahram, Selasa (7/12), Pemerintah Mesir memutuskan menutup pintu masjid selama beberapa bulan pada 2020. Tak lama, mereka mengizinkan pelaksanaan sholat jenazah terbuka, hanya di masjid yang memiliki halaman luas.

Mulai bulan ini, Mesir melarang orang yang tidak divaksinasi memasuki institusi pemerintah. Sementara mulai bulan November lalu, pegawai negeri yang tidak divaksinasi tidak lagi diizinkan masuk ke tempat kerja tanpa menunjukkan tes PCR negatif.

Saat ini, Mesir sedang berupaya menerapkan semua rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), untuk menghadapi varian Covid-19 baru, Omicron. Menteri Kesehatan Khaled Abdel-Ghaffar selama pertemuan menyebut pihaknya berusaha sekuat mungkin mencegah varian baru ini menyebar.

"Pelaksanaan vaksinasi tetap diperlukan untuk menghadapi varian baru dan membatasi dampaknya," kata Abdel-Ghaffar.

WHO telah menegaskan kembali bahwa varian Omicron dapat dideteksi dengan tes PCR dan varian tersebut menyebar lebih banyak di antara mereka yang tidak divaksinasi, kata Abdel-Ghaffar.

Meskipun Mesir telah berulang kali menegaskan belum mendeteksi adanya kasus Omicron, Kanada dan Kazakhstan telah mengumumkan penangguhan penerbangan ke negara itu karena kekhawatiran akan Omicron.

Di sisi lain, Qatar juga telah memberlakukan periode karantina hotel selama tujuh hari. Karantina berlaku bagi pelancong dari Mesir yang divaksinasi penuh, menggunakan visa kedatangan maupun yang telah disetujui sebelumnya sejak 26 November.

Meski demikian, Swiss memutuskan mencabut persyaratan karantina 10 hari untuk pelancong dari semua negara dalam daftar karantina, seperti Mesir, Malawi, Inggris, Republik Ceko dan Belanda, mulai Sabtu kemarin.

Negara Mesir telah dipasok dengan sekitar 98,4 juta dosis vaksin virus corona yang berbeda, baik yang dibuat seluruhnya atau dalam bentuk bahan mentah, sejak awal pandemi. Sekitar 51 juta dosis siap digunakan, dan sekitar 48 juta dosis tunggal telah diberikan.

"Sekitar 513.000 orang di bawah usia 18 tahun telah terdaftar untuk menerima vaksin, di mana sekitar 261.500 telah divaksinasi," kata Abdel-Ghaffar.

Mesir juga telah mengizinkan pendaftaran bagi orang berusia 15 hingga 18 tahun sejak November, untuk menerima vaksin Pfizer. Kemudian di bulan yang sama, Mesir juga menyetujui penurunan batas usia vaksinasi menjadi 12 tahun untuk vaksin AS.

Tak hanya itu, negara tersebut juga memberi wewenang kepada kelompok prioritas, termasuk tenaga medis, untuk mendaftar untuk menerima suntikan booster.

Sejak awal kampanye vaksinasi tahun ini, Mesir telah mengimpor sejumlah dosis vaksin, mulai dari Sinopharm, Sinovac, AstraZeneca, Sputnik V, Moderna, Pfizer dan Johnson & Johnson. Mesir juga secara lokal memproduksi jutaan dosis vaksin Sinovac China.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini