Karantina di Tanah Air Menjadi Persoalan Jamaah Umroh

Sabtu , 08 Jan 2022, 20:00 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Karantina di Tanah Air Menjadi Persoalan Jamaah Umroh. Foto:   Kewajiban Karantina Jamaah Pulang Umroh
Karantina di Tanah Air Menjadi Persoalan Jamaah Umroh. Foto: Kewajiban Karantina Jamaah Pulang Umroh

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Tim Advance uji coba umroh di masa pandemi telah kembali ke Tanah Air. Saat ini mereka sedang menjalani masa karantina selama tujuh hari sesuai permintaan satgas Covid-19.

 

Terkait

"Kenapa harus dikarantina lagi di tanah air ya karena ini perjalanan luar negeri, jadi tetap harus dilakukan karantina seperti biasanya," kata Azhar Ketua Tim Advance Mitigasi Sistem Umrah Amphuri saat dihubungi Republika, Jumat (7/1). 

Baca Juga

Azhar mengatakan, saat ini dari 25 orang yang menjadi tim advance sedang menjalani masa karantina di hotel pilihannya masing-masing. Hal ini sama dengan mereka yang baru datang dari luar negeri dikarantina di hotel yang berbayar.

"Umroh juga seperti itu tetapi kita tidak tahu regulasi kedepan apakah nanti bisa di pusatkan di asrama haji itu," ujarnya.

Dihubungi terpisah,Wakil Ketua Umum Afiliasi Mandiri Penyelenggara Umroh Haji (Ampuh), Tri Winarto mengatakan, secara umum perjalan umoroh tim advance berjalan lancar. Namun yang masih menjadi keluhan mereka adalah persoalan karantina.

"Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting mungkin juga menjadi keluhan bahwa karantina tetap menjadi persoalan. Iini yang dikeluhkan oleh sebagian besar jamaah terkait karantina kepulangan yang saat ini 7 hari tetap masih memberatkan," kata Tri Winarto.

Tri yang juga sebagai bendahara Koperasi Ampuh ini mengatakan, karantina itu tidak hanya semata-mata besarnya biaya yang harus dikeluarkan jamaah. Akan tetapi juga waktunya yang terlalu lama sehingga membuat jamaah jenuh.

"Itu yang mungkin membuat mereka bosan," katanya.

Padahal kata dia, pemerintah sendiri telah menyatakan bahwa keberangkatan jamaah umroh paling ketat prosedur perjalanannya, baik sebelum mereka diberangkatkan, setelah tiba dan sampai kembalinya harus taat semua ketentuan protokol kesehatan. Kenapa setelah pulang mereka harus karantina dengan waktu yang lama.

"Sebagaimana disampaikan oleh Pak Dirjen dan Pak Menteri Agama bahwa jamaah umroh di skrining kesehatan mulai keberangkatan, dikarantina sebelum keberangkatan di Saudi pun dikarantina dan lain sebagainya. Artinya ada perlakuan yang hati-hati," katanya.

Untuk itu, para penyelenggara perjalanan ibadah umroh (PPIU) berharap pemerintah melalui satgas Covid-19 mengurangi waktu karantina jamaah di tanah air. Apalagi mereka tidak ada yang postif Covid-19 setelah kembali dari Arab Saudi.

"Teman-teman PPIU tetap berharap agar ada keringanan karantina untuk jamaah umroh," 

Menurutnya, jika masa karantina di tanah air dikurangi, akan ada peningkatan minat jamaah umroh. Karantina menjadi bagian yang dipersolkan calon jamaah umroh karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

 

 

 

"Sehingga keinginan jamaah yang begitu besar untuk umroh paling tidak segera bisa dilakukan keringan terhadap karantina. Tentu juga akan berpengaruh kepada biaya yang dikeluarkan jamaah," katanya.

Tri mengatakan, selain mengeluhkan masalah karantina, tim advance juga mengeluhkan tentang skrining kesehatan di asrama haji. Karena jamaah akan dilakukan skrining ketika tiba di Arab Sadi.

"Skrining kesehatan itu juga dirasa tidak perlu, sebab ketika kita datang ke Saudi pun kita masih di PCR dan dikarantina," katanya.

Untuk itu ia menyarankan, karantina ke berangkat itu cukup dilakukan mandiri saja, jadi hanya PCR dan bisa langsung diterbangkan. Sehingga para jamaah tidak perlu mengeluarkan biaya lagi setelah pulang umroh.

"Ini membuat efektivitas waktu dan biaya juga bisa ditekan," katanya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini