Rabu 02 Mar 2022 18:32 WIB

Muslim di India: Kami Diperlakukan Seperti Kambing Kurban

Diskriminasi di Luck Now Muslim terjadi setiap hari

 Wanita Muslim India memegang plakat dan meneriakkan slogan-slogan selama protes terhadap pembatasan jilbab di jalan Mira, di pinggiran Mumbai, India, 11 Februari 2022. Enam siswa di Government Women First Grade College di distrik Udupi, Karnataka, telah dilarang menghadiri kelas karena mengenakan jilbab dan siswa Hindu mulai mengenakan selendang safron sebagai tanda protes.
Foto: EPA-EFE/DIVYAKANT SOLANKI
Wanita Muslim India memegang plakat dan meneriakkan slogan-slogan selama protes terhadap pembatasan jilbab di jalan Mira, di pinggiran Mumbai, India, 11 Februari 2022. Enam siswa di Government Women First Grade College di distrik Udupi, Karnataka, telah dilarang menghadiri kelas karena mengenakan jilbab dan siswa Hindu mulai mengenakan selendang safron sebagai tanda protes.

REPUBLIKA.CO.ID, LUCKNOW -- Negara bagian Uttar Pradesh (UP) di India telah menjadi berita utama atas kejahatan kekerasan terhadap Muslim sejak 2014, ketika Partai Bharatiya Janata Party (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi berkuasa di India. Tiga tahun kemudian, partai itu menang telak di negara bagian tersebut. 

BJP menunjuk Yogi Adityanath, seorang biksu Hindu berjubah kunyit yang menjadi politisi yang dikenal karena sikap anti-Muslimnya, sebagai menteri utama. Dalam beberapa hari setelah kemenangan itu, satu desa UP memasang poster yang meminta umat Islam untuk pergi.

Uttar Pradesh adalah salah satu negara bagian pertama yang mengesahkan undang-undang menentang perpindahan agama secara paksa yang kerap digunakan untuk melecehkan dan memenjarakan pria Muslim dalam hubungan antaragama dengan wanita Hindu. Sementara itu, Muslim yang memprotes undang-undang kewarganegaraan yang kontroversial dipukuli dan harta benda mereka disita, sampai Mahkamah Agung menyatakannya ilegal. 

Selama pandemi, para pemimpin BJP menuduh pria Muslim melakukan "jihad Corona" atau perilaku yang diduga menyebarkan virus tersebut. Diskriminasi sehari-hari seperti itu, yang jauh lebih berbahaya, meminggirkan umat Islam, yang berjumlah 40 juta dan merupakan hampir 20 persen dari populasi UP.

Pada pertengahan Agustus tahun lalu, kelompok Hindu yang main hakim sendiri menyerang sebuah warung makan populer yang dijalankan oleh tiga bersaudara Muslim di kota kuil Mathura di negara bagian India utara ini.

Abid, salah seorang yang mengelola Shrinath Dosa Corner tersebut, mengatakan bahwa orang-orang itu menuduh mereka mengambil keuntungan dari nama dewa Hindu dan merobek poster dan papan nama mereka. 

"Mereka bilang orang Hindu makan di sini karena mereka mengira Anda orang Hindu," kata Abid, dilansir di BBC, Rabu (2/3/2022).

Kios Abid terletak di pasar yang menjual barang-barang elektronik, hanya beberapa kilometer dari kuil yang didedikasikan untuk dewa Hindu Krishna. Shrinath sendiri adalah nama lain untuk Krishna dan orang beragama ini percaya bahwa Mathura adalah tempat kelahirannya.

Setiap warung makan di dekat kuil tersebut dinamai sesuai nama dewa tersebut, kecuali milik Abid yang sekarang disebut American Dosa Corner.

Setelah video penyerangan ini menjadi viral, Abid mengajukan pengaduan polisi dan salah satu pengacau ditangkap. Tetapi enam bulan kemudian, seorang jurnalis lokal mengatakan Abid mencoba untuk mengecilkan insiden itu karena dia tidak ingin ada masalah lain. 

Di saat negara bagian ini menggelar pemilihan suara untuk memilih pemerintahan baru, anggota komunitas Muslim mengatakan kepada BBC bahwa di bawah pemerintahan nasionalis Hindu BJP, mereka telah menjadi "warga kelas dua". 

Pensiunan profesor teologi di Universitas Muslim Aligarh, Mufti Zahid Ali Khan, mengatakan bahwa Menteri Utama Adityanath berperilaku seperti politisi BJP, bukan pejabat pemerintah. 

"Sejak dia berkuasa, umat Islam hidup dalam ketakutan. Setiap kali anak-anak kami pergi, para wanita kami berdoa agar mereka kembali dengan selamat," kata Ali Khan.

Sementara itu, pemerintah membantah pandangan Muslim tersebut. Legislator dan wakil presiden BJP di negara bagian UP, Vijay Pathak, mengatakan tidak benar bahwa Muslim di UP merasa terpinggirkan. 

"Pemerintah tidak mendiskriminasi berdasarkan kasta atau agama. Muslim akan memilih kami dalam jumlah yang lebih besar dalam pemilihan ini," katanya.

Para kritikus menunjuk pada pernyataan anti-minoritas baru-baru ini yang dibuat oleh Yogi dan beberapa pemimpin partainya. Seorang anggota parlemen BJP mengatakan bahwa jika terpilih kembali, dia akan memastikan bahwa umat Islam berhenti memakai kopiah dan mulai memakai pasta vermillion yang digunakan oleh umat Hindu. Sementara bulan lalu, para pemimpin agama Hindu menyerukan serangan terhadap masjid dan imam Islam.

Mantan legislator dari partai oposisi Samajwadi di Aligarh, Zamirullah Khan, mengatakan bahwa mereka bekerja dengan umat Hindu, berdagang dengan mereka, menghadiri penikahan di keluarga masing-masing. Namun demikian, politik kebencian telah meningkat dan itu menjadi fokus yang lebih tajam setiap kali pemilihan sudah dekat. 

"Kami diperlakukan seperti kambing kurban, kami diberi makan dan digemukkan dan kemudian disembelih untuk pesta. Politisi menyiapkan sentimen anti-Muslim untuk mempolarisasi orang-orang dan memenangkan suara. Setelah pemilihan selesai, semua orang pulang," katanya.

Menurut data resmi, Muslim adalah kelompok agama termiskin di India dan hampir 46 persen dari mereka bekerja di sektor informal sebagai tukang listrik, tukang ledeng, penjual, dan pekerja harian. Hal itu tidak ada bedanya di UP.

Sementara pandemi ditambah dengan kebijakan pemerintah, kata Khan, hanya memperburuk situasi mereka (Muslim). Pemerintah Adityanath telah menutup rumah jagal (penyembelihan hewan), sekitar 150 dalam empat setengah tahun terakhir, dengan alasan mereka beroperasi secara ilegal. Rumah jagal secara tradisional dijalankan oleh Muslim, terutama untuk berkurban. Rumah jagal yang buka terpaksa tutup selama berhari-hari selama festival Hindu di banyak distrik-distrik.

Seorang pemilik restoran di Mathura, Zakir Hussain, mengatakan hal itu telah memukul keras tukang daging dan memaksa banyak konsumen untuk mengubah pola makan mereka. Selama delapan tahun terakhir, Hussain dan saudara-saudaranya telah menjalankan Restoran Majeed, yang terkenal dengan biriyani ayamnya dan menyajikan 500 makanan sehari.

Namun pada September 2021 lalu, Adityanath memerintahkan larangan menyajikan daging dalam radius 10 km persegi (sekitar 4 mil persegi) di sekitar kuil Krishna. Kuil ini berbatasan dengan masjid dan area rumah bagi banyak keluarga Muslim. Dalam semalam, hidangan khas menghilang dari menu Majeed, seperti yang biasa dipesan sebagian besar pelanggan. 

"Puluhan restoran dan sekitar seratus toko yang menjual daging dan telur tutup dan ribuan orang kehilangan mata pencaharian," kata Hussain.

Saudaranya, Shakir, mengatakan hal demikian dilakukan untuk membuat mereka sebagai Muslim keluar dari bisnis. Pasalnya, dalam beberapa bulan terakhir, beberapa restoran non-vegetarian yang dijalankan oleh umat Hindu telah muncul di luar zona terlarang.

Mereka juga menyewa tempat di zona aman untuk membuka restoran baru. Tetapi pada hari ketiga, mereka diserang, diduga dilakukan oleh gerombolan nasionalis Hindu. 

"Mereka meminta kami untuk memberi mereka makanan gratis dan membayar uang perlindungan setiap bulan. Ketika kami menolak, mereka menggeledah restoran dan menyerang kami," kata Zakir Hussain.

"Saya kehilangan tiga gigi, rahang saya patah, saya dirawat di rumah sakit selama sebulan. Kakak saya dan kerabat lainnya juga terluka," tuturnya.

Zakir Hussain menambahkan bahwa mereka telah mengajukan pengaduan ke polisi. Penyerang mereka mengajukan kontra-komplain, menuduh perkelahian dimulai karena Hussain mencoba memaksa mereka untuk makan daging sapi. Banyak orang Hindu menganggap sapi itu suci dan daging sapi dilarang di banyak negara bagian, termasuk di UP.

Sementara itu, keluarga Hussain dan beberapa pemilik restoran lainnya telah mengajukan petisi ke pengadilan tinggi Allahabad agar larangan itu dihapuskan. Shakir Hussain mengatakan bahwa BJP memainkan permainan yang berbahaya.

"Kebencian telah menyebar begitu banyak sehingga orang takut. Hindu takut Muslim, Muslim takut Hindu," ujarnya.

Jurnalis Alishan Jafri, yang mendokumentasikan kasus-kasus kekerasan terhadap Muslim, mengatakan pidato-pidato yang menghasut oleh para pemimpin BJP dan pendeta Hindu bukan lagi hanya retorika kosong. Menurutnya, ujaran kebencian ini berdampak pada kehidupan dan mata pencaharian umat Islam.

"Muslim-ness, identitas Muslim sedang diserang di negara bagian ini dan di seluruh India. Menjadi diterima bahwa umat Hindu memiliki hak untuk merasa tersinggung dengan apa yang dikenakan atau dimakan Muslim atau dengan siapa mereka menikah. Ini adalah pembersihan budaya yang perlahan terhadap Muslim," tambah Jafri. (Kiki Sakinah) 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement