Pentingnya Mengurangi Angka Kematian Jamaah Haji Saat Armina

Senin , 02 May 2022, 15:45 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
 Pentingnya Mengurangi Angka Kematian Jamaah Haji Saat Armina. Foto:  Penampakan hamparan karpet dan sisa tenda jamaah haji di  Arafah dari udara, Senin (12/8). Pergerakan manusia di Makkah, Mina dan Arafah selama pelaksanaan ibadah haji tecatah sebagai yang termasif di dunia. Jutaan manusia bergerak dari dan ke tiga tempat ini hanya dalam waktu 2-3 hari
Pentingnya Mengurangi Angka Kematian Jamaah Haji Saat Armina. Foto: Penampakan hamparan karpet dan sisa tenda jamaah haji di Arafah dari udara, Senin (12/8). Pergerakan manusia di Makkah, Mina dan Arafah selama pelaksanaan ibadah haji tecatah sebagai yang termasif di dunia. Jutaan manusia bergerak dari dan ke tiga tempat ini hanya dalam waktu 2-3 hari

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Kepala Pusat Kesehatan Haji Budi Sylvana menjadi tamu kehormatan Universitas Universitas AlKhairaat Palu, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu. Dalam kuliah umumnya Budi menyampaikan pentingnya memberikan pendidikan manasik kesehatan haji kepada para jamaah untuk mengurangi angka kematian saat puncak haji.

 

Terkait

“Angka kematian jamaah haji akan meroket di hari ke 30 di mana ada prosesi Armina,” kata Budi.

Baca Juga

Pada hari ke 30 ini merupakan puncak rangkaian ibadah haji yang digelar di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina). Saat prosesi Armina ini jamaah haji perlu memiliki kesehatan prima agar dapat menjalankan semua rangkaian ibadah hajinya.

“Karena itu kita harus meningkatkan pelayanan kesehatan haji, untuk mencegah kematian jamaah haji,” ujarnya.

Budi mengatakan, salah satu teori yang dapat mengalahkan pandemi saat ini adalah dengan pendidikan atau Educate, Educate and Educate. Dia menegaskan, edukasi ini tidak selalu identik dengan orang yang well educated (berpendidikan).

“Tidak perlu ilmu yang sangat tinggi dalam kesehatan haji, tetapi diperlukan edukasi yang benar bagi jemaah haji,” katanya.

Budi mengatakan, antrian jamaah haji di Indonesia sudah cukup panjang, misalnya di Sulawesi Tengah waktu tunggu sudah mencapai 22 tahun. Masa tunggu yang panjang ini dapat mempengaruhi kesehatan jamaah haji secara pribadi.

“Pada saat ibadah haji kita memberangkatkan jamaah haji yang sehat, kita mengharapkan agar jemaah haji tersebut akan kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat juga,” katanya.

Sebelum mengakhiri kuliah umumnya, Budi menyampaikan empat hal sebagai harapan kesehatan haji ke depan. Pertama, memperkuat manasik kesehatan haji untuk meningkatkan status kesehatan jemaah, kedua keterlibatan semua pihak dalam mewujudkan Istithaah kesehatan haji, ketiga pelaksanaan vaksin meningitis secara menyeluruh pada Jemaah Haji, keempat penerapan protokol kesehatan secara konsisten.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Alkhairaat Palu Dr. Umar Alatas, S.PI, M.Si, menyampaikan, kegiatan kuliah umum yang dihadiri Kepala Pusat Kesehatan Haji Budi Sylvana ini sebagai bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi Universitas Alkhairaat. Tema pada kuliah umum ini tentang kebijakan kesehatan haji.

“Di mana kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia, karena adanya pandemi COVID-19, maka Pemerintah Indonesia mengumumkan pembatalan keberangkatan haji bagi jamaah haji Indonesia pada tahun 2020 dan 2021,” katanya.

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini