Umat Islam di ASEAN Diajak Jaga Kebersamaan Melalui Masjid

Rabu , 20 Jul 2022, 16:45 WIB Reporter :Fauziyah Mursid/ Redaktur : Agung Sasongko
Ketua Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla saat sambutan dalam Konferensi Internasional Komunitas Masjid Asean Tahun 2022 di Gedung DMI, Jalan Matraman, Jakarta Timur, Rabu (20/7).
Ketua Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla saat sambutan dalam Konferensi Internasional Komunitas Masjid Asean Tahun 2022 di Gedung DMI, Jalan Matraman, Jakarta Timur, Rabu (20/7).

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Seluruh umat Islam di kawasan ASEAN diajak menjaga ukhuwah dan kebersamaan melalui masjid. "Penduduk ASEAN sekitar 660 juta jiwa. Islam itu hampir 200 juta dan penduduk muslim di ASEAN itu terbesar di Asia, ada 41 persen. Dengan jumlah tersebut itu penting untuk menjaga ukhuwah secara bersama-sama melalui masjid," kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DPP DMI) Jusuf Kalla dalam siaran persnya, Rabu (20/7/2022).

 

Terkait

JK mengatakan jumlah masjid di ASEAN diperkirakan mencapai 900 ribu. Jika dipersentasekan secara rata-rata, kata JK, maka setiap 300 orang itu bisa ditampung dalam satu masjid. "Jadi sangat besar populasinya," tambahnya.

Baca Juga

Karena itu, JK mendorong masjid butuh penguatan secara longgar dan tidak terikat pada kepengurusan pusat, melainkan komunitas. Yang penting mengedepankan kebersamaan untuk saling berukhuwah.

JK berpendapat kebersamaan di masjid bisa menjadi jalan bagi umat Islam di Asean untuk mengatasi tuduhan adanya Islam radikal. "Melalui kekuatan masjid, kita bisa redam dan masyarakat bisa kita arahkan lebih moderat," kata Wakil Presiden RI ke 10 dan 12 tersebut.

Tak hanya itu, kekuatan umat Islam melalui masjid juga bisa menjadi jalan untuk membantu masyarakat Islam yang berada di negara-negara yang islamnya minoritas atau lebih kecil. Bantuan, kata JK, bisa dilakukan dengan banyak cara guna menguatkan komunitas masjid Asean dalam upaya membangun umat di kawasan Asean.

"Mungkin di Filipina butuh khatib yang baik, atau di Thailand, Kamboja. Maka mereka bisa belajar ke Indonesia dan Malaysia. Kita buatkan lembaga pendidikannya soal itu," kata dia.