Bashrah, Kota Metropolis Kekhalifahan Abbasiyah

Senin , 07 Nov 2022, 22:11 WIB Redaktur : Agung Sasongko
 Patung serdadu Iraq di sepanjang garis pantai Syatt Al-Arab, Bashrah.
Patung serdadu Iraq di sepanjang garis pantai Syatt Al-Arab, Bashrah.

IHRAM.CO.ID,Bashrah adalah sebuah provinsi di Irak. Kota itu dijuluki Venesia Timur Tengah. Kota yang memiliki sejumlah terusan (kanal) itu memiliki peranan yang terbilang sangat penting dalam sejarah awal Islam.

 

Terkait

Terletak di sepanjang Sungai Shatt al-Arab dekat Teluk Persia, Bashrah sempat menjelma menjadi kota metropolis peradaban dan perdagangan di era Kekhalifahan Abbasiyah. Ketika Baghdad-ibu kota Dinasti Abbasiyah-mencapai kejayaannya, pada saat yang bersamaan Bashrah pun tumbuh menjadi kota penting dalam peradaban Islam. Kota Bashrah yang berjarak 545 kilometer dari Baghdad itu mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-8 M.

Baca Juga

Tak heran jika Bashrah bersaing menjadi kota metropolis peradaban dan intelektual dengan Baghdad pada era keemasan Islam. Sederet ilmuwan terkemuka yang telah mengharumkan nama Islam terlahir di Bashrah.

Di antara sederet sarjana dan ilmuwan Muslim yang terlahir dari Kota Bashrah itu, antara lain, Abdul Malik bin Quraib al-Asma'i (739 M-831 M), seorang ahli zoologi yang sangat terkenal; Abu Bakar Muhammad bin al-Hasan bin Duraid, geogafer dan genealog kondang; al-Jahiz (776 M-868 M), sastrawan Islam klasik yang kesohor; serta Ibnu al-Haitham (965 M-1039 M), seorang fisikawan fenomenal.

Selain itu, di pusat intelektual itu juga hidup ahli tata bahasa Arab terkemuka seperti Sibawaih dan al-Khalil bin Ahmad. Beberapa ahli sejarah terkemuka pun ternyata terlahir di kota itu, seperti Abu Amr bin al-Ala, Abu Ubaida, al-Asmai, serta Abu Hasan al-Madani. Selain memiliki sastrawan kondang seperti al-Hijaz, dari Bashrah juga lahir beberapa sastrawan seperti Ibnu al-Mukaffa dan Sahl bin Harun.

Kota yang dikenal sebagai penghasil kurma berkualitas tinggi itu didirikan oleh umat Islam pada 636 M, era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Pada tahun itu, pasukan tentara Islam yang mulai melakukan ekspansi di bawah komando Utba bin Ghazwan berhasil menaklukkan wilayah itu dari kekuasaan Kerajaan Sasanid. Di daerah yang awalnya bernama Vahestabad Ardasir itu, pasukan Islam berkemah.

Umat Islam lalu menjadikan daerah itu sebagai basis pertahanan saat melawan Imperium Sasanid. Sejak itu, wilayah itu pun diberi nama Bashrah (bahasa Arab) yang berarti 'mengawasi' atau 'memantau'. Dari wilayah itulah, pasukan tentara Islam memantau pergerakan militer Sasanid.  Versi lain menyebutkan, kata 'Bashrah' berasal dari bahasa Persia Bas-rah atau Bassorah. Kata al-Bashrah biasa pula berarti 'batu kerikil hitam'.

Secara resmi pada 639 M, Khalifah Umar menjadikan Bashrah sebagai ibu kota provinsi dengan wilayah kekuasaan meliputi lima daerah. Abu-Musa al-Asha'ari ditunjuk sebagai gubernur pertama Bashrah. Setelah itu, dari masa ke masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang berpusat di Madinah mengangkat gubernur untuk Bashrah.

Dari tahun ke tahun, Bashrah tumbuh sebagai sebuah kota. Pada 771 M, Ziad bin Abi Sufyan mulai mengembangkan Bashrah menjadi kota yang besar. Kota itu pun dengan cepat berkembang menjadi sebuah metropolis dunia yang terkemuka pada abad ke-8 M. Pada abad itulah, Bashrah mencapai puncak kejayaannya. Jumlah penduduknya pun mencapai 200 ribu hingga 600 ribu jiwa.

sumber : Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini