Puluhan Kota di Suriah Utara Dilanda Krisis Air

Selasa , 29 Nov 2022, 09:17 WIB Reporter :Alkhaledi Kurnialam/ Redaktur : Ani Nursalikah
Air limbah mengalir di antara tempat penampungan pengungsi Suriah di kamp Kalbeet, Idlib utara, 29 Oktober 2022 (dikeluarkan 01 November 2022). Puluhan Kota di Suriah Utara Dilanda Krisis Air
Air limbah mengalir di antara tempat penampungan pengungsi Suriah di kamp Kalbeet, Idlib utara, 29 Oktober 2022 (dikeluarkan 01 November 2022). Puluhan Kota di Suriah Utara Dilanda Krisis Air

IHRAM.CO.ID, DAMASKUS -- Lebih dari 40 kota di Suriah di wilayah Barat Laut hingga Utara berada dalam kondisi krisis air yang mempengaruhi ratusan kamp pengungsi. Banyak wilayah yang kemudian bergantung pada stasiun pompa yang dijalankan oleh LSM lokal dan internasional untuk menyediakan air bersih.

 

Terkait

Kurang dari sebulan yang lalu, LSM kemanusiaan GِOAL Global berhenti mendukung 11 stasiun di seluruh Idlib. Bantuan yang efeknya baru saja mulai dirasakan ketika PBB menarik dana utama dari badan-badan kemanusiaan.

Baca Juga

Dilansir dari The New Arab, Senin (28/11/2022), kamp-kamp pengungsi di Suriah Utara yang seringkali dipasok oleh kendaraan yang membawa tangki air khususnya sangat terpukul oleh krisis tersebut.

"Krisis ini semakin membesar setelah PBB menghentikan pendanaannya untuk GOAL global pada akhir Oktober," kata Kepala Dewan Kota Armenaz di pedesaan Idlib Firas Dunoon kepada Al-Araby Al-Jadeed.

"GOAL masih berusaha mendapatkan pendanaan dari tempat lain, tetapi sampai sekarang tidak berhasil," tambahnya.

Dia mengatakan 12 kamp pengungsi hanya mengandalkan pasokan air dari Armenaz, yang harus memenuhi kebutuhan hampir 93 ribu orang. Sementara empat puluh tujuh persen kamp sekarang tidak memiliki akses ke air bersih yang mengalir, menurut Koordinator Tanggap Suriah. Dengan datangnya musim dingin, yang diperkirakan PBB akan menjadi salah satu yang paling keras sejak dimulainya perang 2011, penduduk setempat khawatir hal terburuk belum datang.

Salah satu pengungsi, Mohammed Ali melarikan diri dari kampung halamannya di Maaret al-Numan ke Armenaz pada 2019, di mana dia tinggal di sebuah apartemen sewaan. "Sewanya Rp 786 ribu per bulan, dan setiap minggu saya membutuhkan sekitar 10 kontainer air. Sekarang harganya 55 lira Turki (Rp 47 ribu) lagi," kata Ali kepada Al-Araby Al-Jadeed.

"Saya bekerja sebagai buruh, berpenghasilan sekitar kurang dari Rp 31 ribu sehari, jadi biaya tambahan untuk air merupakan beban yang sangat besar. Sejujurnya, saya tidak tahu bagaimana saya akan melewati musim dingin," tambahnya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini