Kamis 01 Oct 2015 09:02 WIB
Insiden Mina

74 Jamaah Masih Dicari, KPHI: Jangan Sampai Ada Jamaah Ghaib

Rep: Ratna Puspita/ Red: Indah Wulandari
Jamaah haji di Mina
Jamaah haji di Mina

REPUBLIKA.CO.ID,MAKKAH -- Jumlah jamaah yang masih dalam pencarian berkurang empat orang,  dari yang semula dilaporkan 78 orang menjadi 74 orang. Pengurangan itu karena dua jamaah dinyatakan wafat dan dua lainnya kembali ke pemondokan.

"Kami akan terus berupaya mencari jamaah haji yang masih belum diketemukan sampai dengan saat ini dan akan dikabarkan dalam kesempatan waktu sesegera mungkin," kata Sekretaris Daerah Kerja Makkah Panitia Penyelenggara Ibadah Muhammad Noer Alya Fitra, Kamis (1/10) dini hari waktu Arab Saudi.

Nafit memerinci jamaah yang belum kembali ke pemondokannya berasal dari 14 kloter. Yaitu, 37 jamaah dari Kloter JKS 61, delapan orang dari Kloter BTH 14, enam orang dari SOC 62 dan enam orang dari SUB 48.

Empat orang dari SUB 28, empat orang dari UPG 10, dan dua orang dari JKS 21. Tujuh kloter melaporkan kehilangan satu anggotanya, yaitu Kloter BPN 5, Kloter JKG 33, Kloter LOP 9, Kloter SUB 61, Kloter JKG 35, Kloter BTH 15, dan Kloter SUB 34.

Ketua Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI) Slamet Effendy Yusuf mendesak agar pencarian ini dituntaskan dengan cermat. "Jangan sampai hingga akhir musim haji masih ada jamaah yang  ghaib seperti tahun-tahun lalu. Semua harus jelas," ujar dia.

Kendati demikian, dia mengapresiasi upaya PPIH Arab Saudi, khususnya Daker Makkah, dalam proses pencarian jamaah yang belum kembali ke pemondokan. Pengurangan dari 225 jamaah yang dilaporkan belum kembali pada hari-hari awal menunjukkan adanya kerja keras untuk menemukan mereka yang ghaib/atau hilang.

Dia juga mendukung pembentukan tiga tim pencarian. Tiga tim ini memiliki tugas yang berbeda, yaitu tim penelusuran awal di kloter, tim identifikasi di pemulasaran jenazah, dan tim penelusuran di rumah sakit.

Slamet berharap pembentukan tim ini dapat membuat proses pencarian berjalan dengan optimal. Pembentukan tim itu juga dapat meminimalisir terjadinya kesalahan identifikasi karena terverifikasi nama jamaah, asal kloter, dan nomor paspornya.

"Tidak ada kekeliruan yang tidak diperlukan. Kekeliruan bakal sangat fatal berkaitan dengan penentuan orang sudah meninggal atau belum," kata Slamet.

KPHI juga memahami kesulitan yang dialami oleh penyelenggara haji Indonesia untuk memperoleh akses di rumah sakit dan pemulasaran jenazah sehingga banyak jenazah yang belum teridentifikasi. "Banyak perubahan-perubahan fisik pada mayat," ujar Slamet.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement