Rabu 02 Mar 2022 10:30 WIB

Imam Al-Ghazali Ungkap Enam Tempat Pemicu Riya

Pamer atau riya merupakan salah satu perilaku yang tidak disukai Allah SWT.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Agung Sasongko
Berdoa (Ilustrasi)
Foto:

5. Pamer dalam perbuatan

Beberapa bentuk dari poin ini adalah memperlama durasi rukuk dan sujud, atau menampilkan kepada khalayak saat bersedekah, puasa, atau haji.

Semua contoh itu sangat potensial dalam memunculkan riya’. Bahkan, gerak-gerik tubuh ketika melenceng dari niat luhur, kerapkali terjerumus dalam penyakit hati ini.

6. Banyaknya murid atau guru yang dipamerkan

Perilaku riya bisa tumbuh karena banyaknya murid, teman, maupun guru yang bisa dipamerkan. Orang yang sering berkunjung kepada para gurunya, membuat ia memiliki gambaran atau branding diri yang baik di mata umat.

Sekilas membaca penjelasan Imam al-Ghazali tentang enam potensi yang menyebabkan riya’, seolah membuat gambaran untuk beramal shaleh menjadi susah. Beramal lillahi ta’ala, murni karena Allah semata memang tidak mudah.

Hal ini semata bukan karena Allah SWT mempersulit aksesnya, tetapi karena hati manusia penuh oleh nuansa syaithani, egoisme dan mabuk dunia. Yang demikian membuat seseorang menjadi sulit dalam menemukan kemurnian ibadah yang sebenarnya.

"Sebagai hamba Allah SWT, tentu orang tidak boleh berkecil hati. Orang harus terus berupaya sedikit demi sedikit membenahi hati dengan cara apa pun. Seperti banyak membaca, mengaji kepada para ustadz, kiai, atau tuan guru yang dapat meningkatkan kualitas spiritualnya," tulis Ust Ahmad Dirgahayu. 

Terakhir, ia menyebut kunci dari beribadah adalah tidak sampai berhenti karena terjangkit riya’ saat beramal pertama, kedua, atau bahkan ketiga kalinya. Namun amal ibadah tetap harus terus dilanjutkan sampai hati menjadi stabil dan tidak butuh dilihat lagi oleh manusia lainnya. 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement