Ahad 13 Sep 2015 19:15 WIB
Musibah Crane Jatuh

Badai Debu Selamatkan Jamaah (1)

 Crane proyek perluasan masjid yang jatuh di Masjidil Haram, Makkah, Sabtu (12/9).   (Reuters/Mohamed Al Hwaity)
Crane proyek perluasan masjid yang jatuh di Masjidil Haram, Makkah, Sabtu (12/9). (Reuters/Mohamed Al Hwaity)

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Badai debu yang menyapu Masjidil Haram sebelum hujan lebat turun pada Jumat (11/9) sore, membuat ratusan jamaah berpindah tempat. Jamaah yang semula berada di areal pintu masuk utama sai (masa’a), memutuskan untuk merangsek ke depan mendekati kabah.

Mereka berlindung di bawah tempat tawaf khusus untuk jamaah berkursi roda. Lintasan tawaf di lantai dua itu bak payung melingkar yang mengitari Baitullah. Saat badai debu, Idrin Muhammad Suud (63 tahun) sedang melakukan tawaf.

Dia baru saja selesai menyempurnakan dua putaran tawaf. Menurut Idrin, banyak jamaah yang sudah bergeser ke bawah lintasan sai di lantai dua guna menghindari debu. Termasuk ratusan jamaah yang semula berada di depan pintu masuk masa’a.

“Debu sangat pekat. Di area itu hampir kosong ditinggalkan jamaah,” ujar Idrin menceritakan peristiwa ambruknya crane di Masjidil Haram pada Jumat lalu, seperti dilaporkan wartawan Republika, EH Ismail.

Memasuki putaran ketiga tawaf, Idrin melanjutkan, badai debu bercampur tiupan angin menghempas jamaah dengan sangat kuat. Saat itulah, puing beton dan bandul crane jatuh dari lantai tiga atap bangunan masjid yang hampir lurus sejajar dengan maqam Ibrahim.

“Tiba-tiba ada batu besar terlempar ke dalam Hijir Ismail disusul suara menggelegar,” kata Idrin.

Ribuan jamaah yang sedang berada di dekat lokasi jatuhnya bandul crane berteriak histeris. Suara takbir dan istighfar mengaung. Seketika itu pula, hujan turun dengan lebat. Jamaah pun berlarian mencari tempat perlindungan.

Area di bawah tempat mataf khusus jamaah berkursi roda makin penuh sesak. Idrin menghentikan tawafnya dan langsung berlari mencari tiang nomor 111. Di tiang itulah Idrin meninggalkan istri tersayangnya, Rubiah binti Muhammad Zailani.

“Istri saya tadi tidak kuat, makanya saya minta tunggu di bagian tengah karena takut digusur petugas. Dia saya tinggalkan dengan sajadah, tas kuning berisi Alquran, dan air zamzam,” ujar Idrin.

Sambil menunggu suami tawaf, Rubiah duduk di atas sajadah sambil membaca Alquran. Di dekat tiang 111 dia setia menunggu Idrin selesai bertawaf. Idrin mencoba menerobos kepadatan jamaah yang berkerumun di bawah mataf lantai dua.

Dia pun mengaku sulit bernapas. Namun, pikiran terhadap sang istri membuat Idrin nekat menerobos barisan jamaah. “Begitu saya berhasil keluar, saya lihat di depan saya mayat sudah bergelimpangan. Ya Allah, istri saya,” ucap Idrin sambil mengusap kedua matanya yang basah. “Istri saya… istri saya…,” cerita Idrin.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement