REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Pemerintah Arab Saudi memerintahkan penyelidikan terkait insiden di Mina segera dilakukan. Seperti diketahui, dalam tragedi desak-desakan di Mina sedikitnya 719 jamaah meninggal dunia, dan 863 jamaah dilaporkan terluka.
Seperti dilansir Aljazirah, putra mahkota Saudi Pangeran Mohamed bin Nayef yang memimpin komisi Haji Saudi memerintahkan penyelidikan terkait kasus itu dalam pertemuan dengan para pejabat senior pada Kamis (24/9).
Temuan inivestigasi tersebut akan disampaikan kepada Raja Salman, yang nantinya akan mengambil langkah tepat untuk merespon hal tersebut.
Kementerian Dalam Negeri Saudi mengatakan, aksi berdesakan para jamaah tampaknya disebabkan oleh dua gelombang jamaah yang bertemu di persimpangan.
Juru bicara kementerian Mayjen Mansour al-Turki mengatakan, suhu tinggi dan kelelahan juga jadi faktor pendukung bencana.
Namun Kepala Organisasi Haji Iran Said Ohadi mengatakan, tanpa alasan jelas ada dua jalur haji di Mina yang ditutup. Inilah yang menjadi penyebab terjadinya tragedi desak-desakan mematikan di Mina.
"Dua jalur telah ditutup dekat lokasi lempar jumrah, ini menyebabkan insiden tragis ini," katanya. Ohadi mengatakan, penutupan jalan meninggalkan hanya tiga rute menuju tempat melempar jumrah.
Insiden terjadi di Jalan 204 Mina. Mina merupakan rumah dari lebih dari 160 ribu tenda jamaah haji. Menurut Al-Arabiya, Kepala Komite Haji Pusat Pangeran Khaled al-Faisal menyalahkan aksi saling injak pada sejumlah jamaah asal Afrika.
Sekitar 4.000 orang dari tim penyelamat berpartisipasi dalam operasi penyelamatan korban. Mereka membantu para korban luka. Sementara 220 ambulans telah diarahkan ke tempat kejadian.
Tragedi Mina Kamis lalu merupakan yang terburuk kedua, setelah insiden serupa pada 1990. Kala itu jumlah korban meninggal mencapai 1.426 jamaah, yang berdesak-desakan di sebuah terowongan di Mina.




