Sabtu 26 Sep 2015 08:08 WIB
Insiden Mina

Ngeri, Irfan Melihat Jasad Jamaah Bergelimpangan di Mina

Rep: Ratna Puspita/ Red: Indah Wulandari
Korban tragedi Mina tengah mendapat pertolongan
Korban tragedi Mina tengah mendapat pertolongan

REPUBLIKA.CO.ID,MAKKAH -- Jamaah asal Kelompok terbang (Kloter) JKS 61 Embarkasi Jakarta-Bekasi, Irfan Firdaus menceritakan kronologi insiden Mina, Kamis (24/9) pagi yang menyebabkan ia harus kehilangan empat anggota keluarganya.

Awalnya, kelompoknya yang terdiri dari tujuh anggota keluarga berangkat bersama menuju Jamarat. Mereka melintas di Jalan King Fahd, namun askar meminta rombongan berbelok ke kiri melalui Jalan 223. Dari Jalan 223, mereka melanjutkan berjalan kaki di Jalan 204.

Ketika itu, ribuan orang sudah memadati jalan tersebut. Gelombang manusia datang dari dua arah, mereka yang hendak menuju Jamarat dan jamaah yang pulang dari Jamarat. Jamaah pun berdesak-desakan.

"Yang paling dominan, orang kulit hitam. Ada 500 sampai 100 orang kulit hitam, lalu datang lagi dari arah berlawanan," kata dia, Jumat (25/9).

Jamaah tidak memiliki akses keluar karena pintu-pintu maktab yang berada di sisi kanan dan kiri jalan ditutup. "Mereka mungkin tidak memberikan masuk karena khawatir kehilangan barang," kata dia.

Kala itu, Irvan mengatakan, semua orang panik dan ingin menyelamatkan diri masing-masing. Kakak Irfan,  Atang sudah sangat lemas. Dia pun berupaya menyelamatkan adiknya, Siska dan sang istri Ima yang berada di dekatnya.

Jamaah yang berdesak-desakan pun bertumbangan. Irfan melihat banyak jamaah yang meninggal. Mayat pun  bergelimpangan di sekitarnya. "Kalau lihat kondisi ketika itu memang tidak tahan. Bahkan, orang-orang Afrika yang tubuhnya besar pun bertumbangan," kata dia.

Menurut Irfan, tidak hanya karena berdesakan dan terinjak-injak. Namun, sebagian besar tidak tahan dengan sengatan sinar matahari. Dia menuturkan, jamaah saling menghimpit selama hampir dua jam.

"Kondisi sangat crowded. Tidak bisa berjalan mulai jam 08.00 sampai 10.00, sangat panas. Kami dehidrasi. Jika sejam lagi, korbannya mungkin lebih bayak," ujar Irfan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement