REPUBLIKA.CO.ID,RIYADH -- Pendapatan musim haji tahun ini diperkirakan turun drastis. Seperti dilansir Arab News, Sabtu (12/10), kerugian diperkirakan mencapai 2,5 miliar saudi riyal.
Hal ini terutama disebabkan pengurangan kuota jamaah haji luar negeri sebanyak 20 persen dan jamaah domestik sebanyak 50 persen. Pengurangan itu dilakukan karena adanya proyek perluasan Masjidil Haram.
Kepala Komite Haji dan Umrah di Dewan Kamar Saudi (CSC) Osama Yahya Filani mengatakan seorang jamaah domestik membayar antara 7.000-8.000 saudi riyal. Dari ongkos tersebut, firma layanan haji bisa menghasilkan hingga 832 juta saudi riyal.
Di sisi lain, jamaah asing menghabiskan rata-rata 1.200 saudi riyal perorang. Hal ini berarti firma haji bisa mengumpulkan 1,6 miliar saudi riyal.
Kementerian Haji telah memberi lisensi kepada 22 perusahaan untuk menyediakan layanan haji berbiaya murah kepada jamaah domestik dan asing. Jumlahnya bervariasi mulai 1.900 hingga 3.900 saudi riyal.
Menurut Filani, biaya layanan haji di dalam negeri berkisar antara 5.000 sampai 15 ribu saudi riyal tergantung jenis layanan yang diberikan. Pengeluaran biaya haji cenderung naik turun karena terpengaruh harga tiket pesawat yang bisa naik hingga dua kali lipat.
Penyebab peningkatan harga tiket pesawat domestik untuk broker yang menuntut biaya tambahan untuk tiket di waktu puncak haji. Filani mengatakan biaya perjalanan dari Riyadh musim haji tahun ini berkisar 1.500 hingga 1.700 saudi riyal perorang dibandingkan biaya normal sekitar 700 saudi riyal.
Mantan Wakil Kepala Komite Haji dan Umrah di CSC Abdulqadir Al-Jabarti mengatakan pengurangan jamaah asing sebesar 20 persen tidak akan sangat mempengaruhi pendapatan karena biaya layanan haji tetap tak berubah selama 30 tahun terakhir.




